Dari Stunting hingga Gizi Berlebihan Susu Pertumbuhan Jadi Sorotan

 

pemenuhan nutrisi dan pemilihan susu pertumbuhan yang tepat sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Pemenuhan nutrisi dan pemilihan susu pertumbuhan yang tepat sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Foto: Pexels

Indonesia masih menghadapi tantangan gizi anak yang cukup kompleks. Di satu sisi, prevalensi stunting terus menjadi perhatian karena berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan anak dalam jangka panjang. Di sisi lain, kasus kelebihan berat badan dan obesitas pada anak juga semakin banyak ditemukan, terutama di wilayah perkotaan.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial FKUI-RSCM, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menjelaskan bahwa masalah gizi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kekurangan nutrisi, tetapi juga kelebihan asupan yang dapat memengaruhi kesehatan di kemudian hari.

“Stunting masih menjadi masalah yang paling penting dan harus kita perhatikan. Namun di sisi lain, kasus overweight atau gizi lebih pada anak usia kurang dari lima tahun juga cukup banyak ditemukan,” ujarnya.

Menurut Rini, stunting merupakan kondisi perawakan pendek akibat malnutrisi dan infeksi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini dapat bermula sejak bayi lahir dengan berat badan rendah, tidak mendapatkan ASI dan MPASI yang optimal, hingga akhirnya mengalami gangguan pertumbuhan yang berlanjut sampai usia dewasa. Jika tidak ditangani, siklus tersebut dapat terus berulang antar generasi.

Sementara itu, obesitas pada anak juga perlu mendapat perhatian yang sama. Masih banyak yang menganggap tubuh gemuk sebagai tanda anak sehat. Padahal, kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit di masa mendatang.

“Anak dengan gizi lebih atau obesitas bukan berarti memiliki status imun yang lebih baik. Dalam jangka panjang, mereka berisiko mengalami diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi, hingga sindrom metabolik,” kata Rini.

Selain stunting dan obesitas, masalah lain yang kerap ditemukan adalah karies gigi. Kerusakan gigi dapat mengganggu kemampuan mengunyah sehingga berdampak pada asupan nutrisi harian. Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Indonesia juga masih menghadapi tantangan kekurangan zat gizi mikro, terutama zat besi dan vitamin D. Kekurangan zat besi pada masa awal kehidupan dapat berdampak terhadap perkembangan kognitif anak. Menurut Rini, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dampaknya tidak hanya terlihat pada kesehatan fisik, tetapi juga kemampuan belajar dan perkembangan otak anak.

Selain nutrisi, stimulasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. “Dua hal penting dalam meningkatkan perkembangan otak adalah nutrisi dan stimulasi. Keduanya harus diberikan secara optimal,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial FKUI-RSCM, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menyampaikan pentingnya orang tua untuk lebih kritis dalam membaca label dan memahami komposisi produk nutrisi anak dalam acara Grand Launching AceKid Indonesia di Jakarta Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial FKUI-RSCM, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menyampaikan pentingnya orang tua untuk lebih kritis dalam membaca label dan memahami komposisi produk nutrisi anak dalam acara Grand Launching AceKid Indonesia di Jakarta. Foto: AceKid Indonesia
 

Memahami Peran Susu Pertumbuhan


Setelah periode ASI eksklusif dan MPASI, susu pertumbuhan masih menjadi salah satu sumber nutrisi yang dapat melengkapi kebutuhan gizi harian anak. Susu mengandung protein, kalsium, serta berbagai zat gizi lain yang berperan dalam pertumbuhan tulang, perkembangan jaringan tubuh, dan mendukung sistem imun.

“Anak boleh minum susu sampai masa remaja karena susu merupakan salah satu sumber kalsium yang baik untuk pertumbuhan tulang,” jelas Rini.

Protein dalam susu, termasuk whey dan kasein, juga berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak. Karena itu, susu pertumbuhan dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang bersama sumber protein lain, seperti; ikan, telur, daging, ayam, dan kacang-kacangan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas nutrisi anak, isu transparansi komposisi dan kualitas bahan baku turut menjadi sorotan dalam acara peluncuran susu pertumbuhan AceKid yang digelar di hotel Kempinski- Jakarta kemarin. Dalam forum tersebut, bukan hanya membahas produk, namun memberi pengetahuan akan pentingnya literasi nutrisi keluarga di tengah tantangan stunting, obesitas, serta kekurangan zat gizi mikro yang masih dihadapi anak-anak Indonesia.

Pendiri dan CEO FEIHE International, Leng Youbin, mengatakan bahwa edukasi nutrisi menjadi bagian penting dalam membantu keluarga memahami kebutuhan gizi anak secara lebih menyeluruh. “Kami ingin menghadirkan pilihan nutrisi anak yang tidak hanya mengedepankan kualitas produk, tetapi juga transparansi komposisi, sumber bahan baku, dan edukasi yang bertanggung jawab bagi keluarga Indonesia,” ujarnya.

Jangan Hanya Melihat Klaim di Kemasan


Sejalan dengan hal tersebut, Rini mengingatkan bahwa pemilihan susu pertumbuhan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kandungan tambahan yang ditonjolkan dalam kemasan.

“Selama ini banyak yang fokus pada kandungan tambahan seperti DHA, Omega-3, atau Omega-6, padahal komposisi utama juga penting untuk dipahami. Kandungan yang tercantum pertama dalam urutan komposisi menunjukkan komponen terbesar dalam suatu produk,” katanya.

Menurutnya, memahami label produk merupakan langkah sederhana yang dapat membantu memilih susu pertumbuhan sesuai kebutuhan anak. Selain kandungan zat gizi, kualitas sumber bahan baku, kandungan protein, serta ada atau tidaknya tambahan gula dan pemanis tertentu juga perlu menjadi perhatian.

Hal ini menjadi semakin relevan mengingat sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih pada masa awal kehidupan dapat berdampak terhadap kesehatan dan perkembangan anak di kemudian hari. Konsumsi makanan dan minuman manis yang tidak terkontrol juga berkaitan dengan meningkatnya risiko karies gigi dan berbagai gangguan metabolik.

Pada akhirnya, tidak ada satu produk yang dapat menggantikan peran pola makan yang beragam dan seimbang. Susu pertumbuhan berfungsi sebagai pelengkap, sementara kebutuhan nutrisi anak tetap perlu dipenuhi melalui konsumsi makanan bergizi, aktivitas fisik yang cukup, serta pola hidup sehat sehari-hari.

Tantangan gizi anak di Indonesia memerlukan perhatian yang menyeluruh, mulai dari pencegahan stunting, pengendalian obesitas, pemenuhan zat gizi mikro, hingga peningkatan literasi nutrisi keluarga. Dengan memahami kebutuhan gizi anak secara lebih komprehensif dan lebih cermat dalam membaca informasi nutrisi, keluarga dapat mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sejak usia dini hingga remaja.

Sebagai fondasi utama, nutrisi yang seimbang perlu berjalan beriringan dengan stimulasi yang konsisten, aktivitas fisik yang cukup, serta kebiasaan hidup sehat sehari-hari. Kombinasi inilah yang berperan penting dalam membantu anak bertumbuh, belajar, dan berkembang sesuai potensinya pada setiap tahap kehidupan.

Baca juga:
Susu Soya Bukan Pengganti Susu Sapi
Cara Minum Susu untuk Cegah Anak Stunting
Jejak Susu Jejak Mutu, Jadi Pertimbangan Baru Susu Pertumbuhan Anak
 

 


Topic

#NutrisiAnak #TumbuhKembangAnak



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>