Kulit Hitam? Siapa Takut

 

Nyaris seratus orang tua berbusana oranye dan beberapa ditemani anak-anak menyesaki Grand Kemang Hotel, Jakarta 16 Agustus 2008. Ada demonstrasi? Ternyata bukan. Mereka menghadiri acara Jumpa Pakar yang bertajuk “Problema Kulit Bayi-Balita & Akibat Psikologisnya” persembahan Ayahbunda yang menggandeng Erha Clinic

Peserta kali ini beruntung karena jumpa pakar ini menghadirkan dua pakar sekaligus yakni dr. Srie Prihianti, SpKK,, PhD, dermatologist dari Erha Clinic dan ditemani Kasandra Putranto, psikolog. Acara ini juga menjadi kesempatan kopi darat sebagian anggota milis yang berkesempatan hadir dan foto bersama di penghujung acara.


Abaikan Mitos

“Ada 5 masalah kulit anak utama di Indonesia, yakni eksim susu, eksim popok, biang keringat, tanda lahir dan kerak kulit kepala,” jelas dr. Srie Prihianti, SpKK., PhD, dermatologist dari Erha Clinic. Ia mengungkapkan, ada mitos keliru mengenai penyebab eksim susu (dermatologis atopik). Eksim susu yang biasanya berbintik merah dan gatal, penyebabnya sama sekali bukan cipratan ASI saat menyusui. Melainkan faktor keturunan yang dipicu keringat berlebih, iritasi sabun atau detergen, hingga alergi makanan tertentu. Artinya, orang tua tak perlu ragu saat menyusui anak. Eksim susu bisa sembuh sendiri sesuai berjalannya waktu.

dr. Srie Prihianti juga menyayangkan jika ada orang tua yang gemar menunda mengganti popok bila si kecil buang air kecil/besar. Popok yang tak segera diganti memicu kulit iritasi, rentan gesekan dan infeksi karena terpapar urin dan faeces. Tak lupa ia berpesan kepada orang tua agar rajin merawat kulit anak yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dengan menjaga kebersihan kulit, mempertahankan kelembaban kulit dengan krim khusus bayi dan menghindarkan bahan pakaian yang kasar penyebab iritasi.

Acara yang disesaki para ayah dan bunda itu juga menyediakan sesi tanya jawab. “Saya kasihan dengan anak tetangga saya yang kerap dibilang si hitam karena warna kulitnya,” ujar ibu Nika, salah seorang peserta yang bertanya bagaimana cara membantu anak tetangganya.  Psikolog Kasandra Putranto menyarankan, celaan tersebut agar tak perlu ditanggapi secara keras. “Netralisir dengan menyebutnya si hitam manis agar rasa percaya diri anak tersebut  bisa tumbuh kembali,” jelas Kasandra.

Pendapat senada juga disampaikan dr. Srie Prihianti. “Justru kita sebagai orang Indonesia harusnya bersyukur karena kulit gelap akan lebih tahan terhadap kanker kulit.” Hal ini karena sengatan sinar matahari di Indonesia lebih terik ketimbang di negara selain katulistiwa. Jadi kenapa musti kelimpungan jika anak kita berkulit tidak putih?

Catur Meiwanto

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>