Tren Hybrid Training Keluarga: Saat Olahraga Jadi Quality Time Orang Tua dan Anak

 

Koleksi sportswear Bohopanna untuk anak dengan desain nyaman dan mendukung kebebasan bergerak saat beraktivitasKoleksi sportswear Bohopanna untuk anak dengan desain nyaman dan mendukung kebebasan bergerak saat beraktivitas. Foto: Dok.Bohopanna

Anak usia 5–17 tahun dianjurkan melakukan sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengaitkan aktivitas fisik pada anak dan remaja dengan kebugaran, kesehatan tulang dan metabolik, fungsi kognitif, serta kesehatan mental. Sebaliknya, perilaku sedentari yang tinggi, termasuk aktivitas berbasis layar, berkaitan dengan sejumlah dampak kesehatan yang kurang baik.

Di tengah keseharian keluarga yang semakin lekat dengan perangkat digital dan mobilitas yang serba praktis, kebutuhan untuk menciptakan ruang bergerak pun ikut berubah. Olahraga kini tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup keluarga. Salah satu bentuk yang menarik perhatian adalah hybrid training, latihan yang memadukan berbagai gerakan fungsional, permainan, dan tantangan olahraga dalam satu aktivitas bersama.

Melanie Ricardo menjelaskan pentingnya aktivitas olahraga dan quality time bersama anak melalui olahraga keluargaMelanie Ricardo menjelaskan pentingnya aktivitas olahraga dan quality time bersama anak melalui olahraga keluarga. Foto: Ayahbunda

Dari Screen Time ke Quality Time


Bagi sebagian keluarga, mengajak anak berolahraga bukan perkara menemukan olahraga yang paling tepat, melainkan menciptakan kebiasaan untuk bergerak. Terlebih, aktivitas fisik tidak harus selalu berbentuk olahraga formal. WHO memasukkan bermain, berjalan, permainan, rekreasi, pendidikan jasmani hingga aktivitas keluarga sebagai bagian dari aktivitas fisik anak.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang dibawa Bohopanna melalui Bohopanna Sports Day di KYZN, BSD, pada 6 September 2026. Selain memperkenalkan berbagai aktivitas seperti basket, gymnastics, football, tenis, dan padel, kegiatan ini menghadirkan Kids & Relay Family Hybrid Training yang mempertemukan anak dan orang tua dalam tantangan olahraga bersama.

Co-Founder Bohopanna, Devy Natalia, melihat olahraga sebagai salah satu cara untuk mengurangi waktu pasif anak.

“Menurutku olahraga adalah salah satu cara mengurangi screen time-nya anak.”

Menurut Devy, manfaat olahraga tidak berhenti pada kebugaran. Permainan olahraga juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar bekerja sama, memecahkan masalah, mengelola energi, hingga membangun interaksi dengan orang tua.

“Kalau misalnya basket, teamwork-nya gimana? Ini jadi apa? Posisi gimana? Itu melatih teamwork juga,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Co-Founder Bohopanna, Irene Kristy, yang menilai olahraga dapat menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. “Sport nggak kalah penting. Karena dari sport itu kita bisa lebih tangguh, lebih disiplin, lebih kayak mimpinya lebih bisa terbuka, terus sehat,” katanya.

Konsep latihan keluarga kemudian menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar target kebugaran: quality time. Anak tidak hanya diminta meninggalkan layar, tetapi diajak melakukan aktivitas yang melibatkan orang tua secara langsung.

Anak-anak aktif berolahraga dengan sportswear yang nyaman dan mendukung keleluasaan bergerak.  Anak-anak aktif berolahraga dengan sportswear yang nyaman dan mendukung keleluasaan bergerak. Foto: Dok. Bohopanna

Olahraga, Percaya Diri, dan Belajar Pantang Menyerah


Bagi Melanie Ricardo, figur publik sekaligus ibu yang aktif berolahraga, aktivitas fisik bersama keluarga juga memiliki dimensi psikologis.

Ia berharap kebiasaan berolahraga dapat membantu generasi baru tumbuh bukan hanya sehat secara fisik, tetapi juga secara mental. “Mudah-mudahan udaranya bisa lebih baik, supaya generasi Indonesia ini, bukan hanya sehat fisiknya, tapi juga mentally,” ujarnya saat hadir dalam kegiatan tersebut.

Irene melihat olahraga sebagai ruang belajar yang konkret. Anak belajar menghadapi kemenangan dan kekalahan, memahami kerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri.

“Dari sport kita belajar banyak. Tadi ngomong kerjasama, percaya diri, saling percaya,” kata Irene. Menurutnya, pengalaman berulang seperti “kalah, coba lagi” juga mengajarkan anak untuk tidak mudah menyerah.

Kebutuhan untuk bergerak ini sekaligus mendorong perubahan dalam cara keluarga melihat pakaian olahraga anak. Menurut Irene, activewear tidak semestinya sekadar menjadi versi berukuran kecil dari pakaian olahraga dewasa. Potongan, kenyamanan, keleluasaan bergerak, serta kebutuhan anak perlu ikut diperhitungkan.

Melanie pun menilai perkembangan produk lokal kini semakin mampu menjawab kebutuhan tersebut. “Kalau memang lokal ada, dan sekarang lokal tuh honestly ya, dari mulai make up, barang-barang skincare, baju olahraga, itu benar-benar nggak kalah sama produk luar,” ujarnya.

Pada akhirnya, tren hybrid training keluarga bukan semata tentang mencoba banyak jenis olahraga dalam satu sesi. Lebih jauh, konsep ini memperlihatkan perubahan cara keluarga memaknai aktivitas fisik: dari kewajiban menjadi pengalaman bersama. Di tengah kehidupan yang semakin digital, bergerak bersama dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun kebiasaan sehat sekaligus memperkuat hubungan orang tua dan anak. (LAI)

Baca juga:

Anak Makin Aktif, Makin Gampang Bau? Ini yang Perlu Orang Tua Tahu
Balita Usus Buntu? Kenali Gejala yang Sering Terlambat Disadari
Happy Sweet Warnai Koleksi Terbaru Spring Summer 2026 KENZO Kids

 


Topic

#HealthyLifestyle #HybridTraining



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>