7 Cara Mendidik Anak Agar Anak Bahagia

 

Foto: shutterstock

Anak akan menjadi pembangkang atau tidak, manipulatif atau tidak, sepenuhnya di tangan Anda. Konsisten atau tidak.
 
Menjadi orang tua yang konsisten dan tegas memberlakukan aturan itu sulit setengah mati. Banyak faktor melatari konsistensi kita sebagai orang tua untuk menerapkan disiplin; suasana hati, rasa bersalah, dan kelelahan.
 
Padahal membangun sikap positif dan mandiri pada anak dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dan sikap orang tua yang konsisten adalah kunci utama. Mengapa disiplin seringkali gagal, semua ahli perkembangan sepakat, orang tua tidak konsisten: kadang membiarkan, kadang menegur, menegur dengan tidak tegas, menegur dengan tegas setelah itu merasa bersalah.
 
Kelley Abrams, Ph.D pskolog dari babycenter membagi kiatnya agar Anda selalu konsisten:
 


1. Pilih prioritas Anda. Kalau Anda ingin menerapkan disiplin di semua bidang dalam waktu yang bersamaan, Anda akan bingung. Pilih satu atau dua hal yang ingin Anda disiplin pada anak. Tidak berteriak atau membantah, dan tidak marah dengan cara merusak bila keinginannya tidak dapat dipenuhi. Ketika perilaku buruk itu muncul, bersikaplah konsisten untuk memprioritaskan perbaikan perilaku ini.  Ucapkan kalimat dengan jelas “Sedih memang, kalau ibu tidak membelikan mainan sekarang juga. Tapi kita harus berbelanja berdasar daftar yang sudah kita buat. Tidak bisa beli mendadak.”


2. Bersiaplah untuk jangka panjang. Sedikitnya butuh waktu 3 minggu untuk menghilangkan perilaku buruk. Posisikan diri Anda pada posisi anak, jangan membuat perubahan sewaktu-waktu karena anak akan bingung.

3. Tulis peringatan untuk diri Anda sendiri. Misalnya; ‘Jangan bertengkar dengan anak.’ ‘Jangan tunggu sampai anak berteriak.’ Terapkan 3C: Calm, Consistency, Caring.

4. Pilih waktu yang tepat.  Membentuk sopan santun tidak dapat terburu-buru. Memberikan peringatan pada anak untuk bersikap sopan sebelum bepergian, tidak akan tercapai. Lebih baik mengajarkannya jauh-jauh hari, waktu yang stabil dan dapat diprediksi.

5. Antisipasi perlawanan. Anak akan menguji dan menantang Anda, apakah Anda konsisten atau tidak. Jangan putus asa kalau kadang-kadang anak juga mengalami kemunduran. Bersikap lembut tapi konsisten akan mengurangi rasa frustrasi anak.

6. Jangan lakukan sendiri. Anda punya suami atau pasangan. Bicarakan bersama agar Anda berdua sepakat dan kompak menerapkan disiplin yang sama. Mungkin pasangan Anda punya pendekatan yang berbeda, boleh saja.

7. Terapkan dengan tetap memberi ruang gerak. Tidak konsisten karena kecelakaan kecil, misalnya Anda sangat sibuk hari itu bisa saja terjadi.  Anda juga dapat memberi kelonggoran. Misalnya, “Selama seminggu ini kamu menginap di rumah oma. Sepulang dari rumah oma, kamarmu harus dirapikan ya.”
 
IR

Baca juga
Ajarkan Anak Menolong Sesama Agar Bahagia
12 Tip Membuat Anak Lebih Bahagia
10 Cara Membuat Anak Sehat dan Bahagia

 

 


Artikel Rekomendasi

Load more