15 Kebisaan Anda dan Balita Ini, Mitos atau Fakta?

 

Fotosearch


dr. ARIEF W. ROSLI, Sp.A dari RSIA Kendangsari, Surabaya membantu Anda menjawab pertanyaan seputar mitos dan fakta kebiasaan yang sering dilakukan sehari-hari. Simak ulasannya!

Mitos: Sering tidur di lantai menyebabkan bronkitis
Faktanya: Kebiasaan ini tak berdampak pada masalah kesehatan, asalkan kondisi kesehatan anak mendukung, misalnya anak tidak memiliki riwayat bronkitis, asma, atau alergi. Selain itu, kebersihan lantai juga harus terjaga, tidak berdebu, dan tidak ada barang-barang di sekitarnya yang menjadi sumber kotoran. Namun, bila Anda tetap khawatir, biarkan anak tertidur, baru pindahkan ke tempat tidur.

Mitos: Terlalu lelah akan membuat anak mengompol malam hari
Faktanya: Mengompol adalah mengeluarkan air seni secara tidak sadar akibat tidak mampu mengendalikan kandung kemih. Jadi, jika si kecil masih mengompol, bukan berarti ia terlalu lelah, tapi karena ia belum bisa mengontrol kandung kemihnya. Latih ia dengan membiasakan pipis sebelum pergi tidur dan konsisten menerapkan toilet training.


Mitos: Terlalu banyak aktivitas, anak bisa mimpi buruk
Faktanya: Banyaknya aktivitas yang dilakukan balita bisa menyebabkan stimulasi berlebihan sehingga ia menjadi lelah, stres, dan cemas. Ketiga hal ini dapat memicu mimpi buruk. Untuk menghindari ini, ada baiknya Anda perhatikan rutinitas anak sebelum tidur agar ia dalam kondisi tenang dan nyaman. Perhatikan juga aktivitas anak, seperti tontonannya, karena bisa membuatnya takut dan terbawa ke alam mimpi. Namun, jika mimpi buruk anak sudah sangat parah, sering dan mengganggu kualitas jam tidur, menurut Jodi Mindell, Ph.D, penulis buku Sleeping Through The Night: How Infants, Toddlers, and Their Parents Can Get a Good Night’s Sleep, maka perlu ada penanganan khusus oleh dokter atau psikolog.


Mitos: Kopi menghindarkan anak dari penyakit kejang
Faktanya: Kejang pada balita biasanya diakibatkan oleh demam tinggi atau faktor penyebab lainnya. Untuk mencegahnya, maka penyebab demam yang harus dicari dan diatasi. Beri juga ia cukup cairan, seperti air, jus, makanan berkuah, dan bukan kopi. Kompres tubuhnya dengan air hangat dan berikan obat penurun panas sesuai umurnya. Bila si kecil pernah kejang, risiko mengalami kejang kembali sangat mungkin sehingga bila demam, atasi demam dengan obat demam dan segera ke dokter terdekat untuk mencari sebabnya supaya tidak kejang lagi.

Mitos: Kebanyakan main gadget membuat mata minus
Faktanya: Di usia bayi dan balita, mata tidak dirancang melihat dalam jarak dekat dan memandang layar dua dimensi untuk waktu lama. Apalagi pada anak dengan kecenderungan rabun jauh -akibat faktor genetik, diturunkan oleh orang tua yang myopia, maka risiko penambahan minus mata anak bisa lebih cepat dengan penggunaan gadget berlebihan. Risiko myopia bisa muncul lebih awal atau penambahan minusnya lebih besar. Karena itu, izinkan anak bermain dengan gadget tak lebih dari dua jam sehari. Selebihnya, berikan kegiatan yang melatih motorik kasar dan eksplorasi benda sesuai bentuk aslinya.

Mitos: Makan es krim saat pilek akan semakin pilek
Faktanya: Es krim, selama dibuat dengan benar dan bersih, bisa dijadikan makanan selingan yang menyehatkan karena terbuat dari susu. Menurut James Steckelberg, M.D., profesor kedokteran di Mayo Medical School Rochester, Minnesota, AS, minum susu tidak menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak dahak saat sakit. Bahkan, penderita batuk pilek direkomendasikan minum atau makan berbagai macam produk susu, seperti es krim dan puding, karena dapat menenangkan sakit pada tenggorokan dan memberikan kalori yang dibutuhkan tubuh saat anak tidak mau makan. Jika anak menjadi lebih parah setelah mengonsumsi es krim, seperti muncul radang sinus atau infeksi telinga, kemungkinan besar ia memiliki risiko alergi susu, dan bisa mencetus munculnya gejala batuk pilek yang lebih parah.

Mitos: Setelah kehujanan, anak harus mandi dan keramas
Faktanya: Kehujanan karena gerimis atau hujan besar sangat tergantung dari daya tahan tubuh anak. Umumnya penyebab sakit setelah kehujanan adalah suhu dingin yang mendadak sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun dan pembuluh darah menyempit. Mandi dan keramas perlu dilakukan karena air hujan mengandung polutan. Polutan dan kotoran yang turun bersama air hujan dan menempel di tubuh bisa menyebabkan munculnya masalah pada tubuh dan rambut. Inilah pentingnya mandi dan keramas jika kehujanan.

Mitos: Sering minum air dingin di siang panas bisa menyebabkan sakit
Faktanya: Selain menyegarkan, minum air dingin juga berfungsi menurunkan suhu tubuh. Namun, hindari memberikan air dingin atau air es langsung pada anak setelah ia beraktivitas lama di siang panas terik. Tubuhnya akan kaget karena terjadi ketidakseimbangan suhu dalam tubuh. Bila ini dilakukan terus-menerus akan berakibat berkurangnya ketahanan tubuh sehingga virus dan bakteri mudah menyerang. Jika si kecil ingin minum, berikan ia air putih dengan suhu normal. Kalau anak ingin minum air dingin, tunggulah hingga suhu tubuhnya menurun dan kembali normal, setelah itu ia boleh minum air dingin secukupnya.

Mitos: Bermain di luar tanpa alas kaki bisa cacingan
Faktanya: Lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal di dalam tubuh balita. Penyakit cacingan memang mudah menyerang balita. Tangkal dengan hidup sehat dan bersih, salah satunya dengan memakai sandal atau sepatu saat bermain di luar. Jika balita bermain di luar tanpa alas kaki, cacing atau telur cacing bisa menempel pada kaki atau sela-sela kuku dan jika tersentuh dengan tangan dan anak kemudian memegang makanan, maka anak pun berisiko cacingan. Biasakan juga hidup bersih, misalnya cuci tangan setelah bermain serta sebelum dan sesudah makan. Biasakan pula balita mencuci kaki setelah main, bepergian, dan sebelum tidur.

Mitos: Agar cepat bisa jalan ajak anak jalan di atas embun rumput
Faktanya: Embun rumput sebenarnya tidak berdampak langsung pada kemampuan anak untuk cepat berjalan. Tapi melatih anak berjalan di atas rumput memang bermanfaat untuk balita. Rumput yang berembun akan menimbulkan sensasi segar pada kakinya. Selain itu, tekstur rumput bisa merangsang saraf-saraf di telapak kaki anak. Ketika kakinya diletakkan di atas rumput, anak akan merasa nyaman seperti dipijat dan itu akan memancingnya untuk melangkah. Namun, Anda harus pastikan bahwa tidak ada kerikil tajam, paku, atau kotoran yang bisa membahayakan si kecil.

Mitos: Makan ceker biar cepat jalan
Faktanya: Menurut Frances Sizer dan Ellie Whitney dalam buku Nutrition Concepts and Controversies, ceker ayam rebus akan menghasilkan gelatin yang kaya protein kolagen, yang dapat diberikan sebagai kaldu MPASI saat anak berusia 6 bulan ke atas. Selain itu, ceker ayam juga memiliki sifat imunogenik yang mampu menghasilkan antibodi. Sebaiknya selain ceker, buatlah kaldu ayam dari sayap, leher dan tulang ayam, karena dapat menghasilkan gelatin juga. Pilih ayam segar, jenis kampung atau pejantan yang tak diinjeksi hormon pertumbuhan.

Mitos: Agar anak susah makan mau makan, beri makanan pedas
Faktanya: Untuk merangsang anak suka makan, Anda bisa kenalkan ia pada aneka jenis makanan, termasuk makanan yang mungkin diberi rasa pedas dari perpaduan bumbu, lada, dan cabai. Tidak ada batasan pasti mengenai tingkat kepedasannya, asal tak berlebihan tak perlu dirisaukan. Tapi jangan memaksa anak makan makanan pedas kalau ia tidak suka. Yang terpenting, biasakan anak makan pada jam makan, yaitu pagi, siang dan malam. Ajak anak makan bersama sehingga ia bisa melihat dan tertarik mencoba makanan yang ada.

Mitos: Agar tidak mengompol, pusar anak perlu digigit capung
Faktanya: Kebiasaan mengompol bisa disebabkan karena faktor psikologis, usia, terlalu banyak minum saat ingin tidur, dan lingkungan. Menghilangkan kebiasaan mengompol dengan membiarkan capung menggigit pusar bukanlah solusi. Sebab bisa mengakibatkan trauma bagi anak. Bahkan, bisa menyebabkan fobia pada capung.

Mitos: Membaca dalam gelap dapat merusak mata
Faktanya: Penelitian yang diterbitkan British Medical Journal mengungkapkan, membaca di bawah cahaya rendah tidak merusak mata, tapi menyebabkan ketegangan mata. Saat membaca di tempat dengan cahaya redup, fokus akan menjadi lebih sulit, yang membuat mata harus bekerja keras sehingga mata akan menjadi lelah. Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka ketegangan mata akan semakin meningkat.

Mitos: Kalau anak demam harus dikompres air dingin 
Faktanya: Kompres paling efektif untuk menurunkan suhu tubuh balita adalah dengan air hangat. Dengan itu, pusat suhu tubuh akan menerima informasi bahwa suhu di sekitar tubuh sedang hangat. Tubuh pun otomatis akan menurunkan suhunya. Letakkan kompres di ketiak dan lipatan paha, bukan di dahi. Ketiak dan lipatan paha dilintasi pembuluh darah besar, sehingga segera memberi sinyal ke pusat pengatur suhu di otak untuk menurunkan demam. Selesai mengompres, seka bagian yang habis dikompres dengan handuk kering. Kenakan kembali bajunya.


(SAN/WIT)


Baca Juga:
Benarkah Microwave Menghilangkan Nutrisi Makanan?
5 Mitos Diet Anda Wajib Tahu
10 Fakta Keguguran Yang Wajib Anda Waspadai

 


Artikel Rekomendasi

Load more