Pola Asuh Pelatih Emosi, Kembangkan Kecerdasan Emosi Balita

 

Para bunda dan ayah yang memenuhi Ruang Jupiter Hotel Grand Angkasa, Medan,  mencoba menebak apa yang dirasakan seseorang lewat ekspresi dan gerak yang diperagakannya. Ternyata, tidak semua tebakan mereka benar.

“Salah menginterpretasikan emosi yang ada dibalik ekspresi anak inilah yang  sering menjadi penyebab ‘perang’ dengan anak,” kata Dr. Rose Mini A. Prianto, MPsi, yang akrab dipanggil Romy, dalam acara Jumpa Pakar Stop! ‘Perang’ dengan Anak. Kenali dan Optimalkan Kecerdasan Emosi Anak agar Survive,  Sabtu (6/6).

Bersama Ayahbunda, acara Jumpa Pakar ini merupakan salah satu wujud komitmen Mead Johnson Nutrition, produsen Enfagrow A+ dan Enfakid A+, sebagai partner Ibu dalam memberikan yang terbaik bagi perkembangan kecerdasan anak, karena anak A+ berawal dari Ibu dan Enfa A+. “Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak, orang tua perlu menerapkan pola asuh pelatih emosi, yaitu bisa menerima emosi anak dan berempati, serta memberikan batas-batas pada perilaku mereka,” kata Romy. Tentu saja, untuk jadi pelatih emosi balita, kita harus punya kecerdasan emosi yang baik pula.

Tidak hanya ‘banjir’ ilmu, pada acara ini peserta juga ‘kebanjiran’ hadiah dari aneka kuis, games dan lomba. “Acaranya keren dan bagus. Selain dapat ilmu yang bermanfaat, pulangnya memboyong hadiah,” kata Hera (32) dan Kiki (33).  
 

 


Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>