Defisiensi besi pada anak bisa terjadi sebelum Hb turun. Kenali dampaknya terhadap kognitif, konsentrasi, perilaku, dan tumbuh kembang anak. Foto ilustrasi: Magnific
Kekurangan zat besi pada anak bukan sekadar persoalan kadar hemoglobin (Hb) yang rendah. Defisiensi besi dapat terjadi ketika cadangan zat besi tubuh mulai berkurang, bahkan sebelum Hb turun dan anemia terjadi. Pada fase ini, anak bisa tetap terlihat aktif sehingga kondisinya mudah luput dari perhatian.
Dalam diskusi media bertema "Update Defisiensi Besi pada Anak” oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia yang diadakan secara online, Selasa (6/10) kemarin,
Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, menjelaskan bahwa dampak kekurangan zat besi dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak.
“Kekurangan zat besi pada anak bisa berdampak pada perkembangan kognitifnya, berperan menurunkan IQ-nya. Kemudian juga tidak hanya sekadar kognitif, tapi juga perilaku, konsentrasi, aktivitas dan kualitas tumbuh kembangnya juga bisa terdampak,” jelasnya.
Otak Membutuhkan Zat Besi untuk Berkembang
Zat besi dibutuhkan tubuh untuk berbagai proses, termasuk pembentukan sel darah merah. Namun, kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan otak yang berlangsung sangat pesat pada masa awal kehidupan.
Menurut Prof. Murti, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode penting yang perlu menjadi perhatian dalam pencegahan defisiensi besi. Pada masa tersebut, perkembangan otak berlangsung cepat dan membutuhkan zat besi dalam jumlah yang memadai.
“Perkembangan otak sangat pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan dan memerlukan besi yang tinggi dibandingkan usia-usia yang lain,” ujarnya.
Pada bayi, kebutuhan zat besi menjadi semakin penting ketika cadangan besi yang diperoleh dari ibu mulai berkurang. Setelah memasuki masa pemberian makanan pendamping, asupan zat besi dari makanan menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Masalahnya, kebutuhan zat besi pada periode tersebut justru tinggi, sementara anak baru mulai belajar makan dan belum tentu langsung mendapatkan makanan dengan kandungan zat besi yang cukup.
Bahan yang disampaikan Prof. Murti juga menunjukkan bahwa kekurangan zat besi tidak selalu langsung terlihat melalui gejala. Pada tahap awal, cadangan besi dapat menurun sementara Hb masih berada dalam batas normal. Anak pun dapat tetap terlihat bugar dan aktif.
Jangan Menunggu Anak Terlihat Pucat
Defisiensi besi berlangsung secara bertahap. Ketika cadangan besi mulai berkurang, tubuh akan menggunakan simpanan tersebut. Jika kekurangan berlanjut, zat besi yang tersedia untuk pembentukan sel darah merah ikut menurun dan pada akhirnya Hb dapat turun sehingga terjadi anemia defisiensi besi.
“Anemia defisiensi besi itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Jadi ini mengalami proses yang lama dari mulai kekurangan besi sampai nanti terjadi penurunan Hb,” kata Prof. Murti.
Inilah salah satu alasan mengapa orang tua tidak sebaiknya hanya mengandalkan tampilan fisik anak. Pucat memang dapat menjadi salah satu tanda, tetapi mengenali pucat pada anak tidak selalu mudah, terutama karena perubahan terjadi perlahan.
Selain itu, Hb yang masih normal juga tidak otomatis berarti cadangan zat besi anak mencukupi. Pemeriksaan tertentu, termasuk ferritin, dapat membantu tenaga kesehatan menilai kondisi cadangan besi sesuai indikasi.
Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting. Optimalisasi nutrisi sejak bayi, perhatian terhadap kelompok yang berisiko, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan ketika terdapat faktor risiko dapat membantu mencegah defisiensi besi berkembang menjadi anemia.
Pada akhirnya, persoalan zat besi bukan hanya tentang angka pada hasil pemeriksaan darah. Kecukupan zat besi sejak masa awal kehidupan berkaitan dengan upaya menjaga tumbuh kembang dan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang. (LAI)
Baca juga:
Hamil Atau Tidak, Zat Besi Tetap Penting
Kenali Jenis Zat Besi pada Bahan MPASI
Junk food Picu Obesitas dan Sederet Gangguan Kesehatan Lainnya pada Balita