Bakat Anak Pentingkah? Kenali Minatnya, Jangan Buru-Buru Mengarahkannya

 

Orang tua menemani anak bermain dan mencoba berbagai aktivitas untuk mengenali minat serta potensi anak sejak dini. Foto: Magnific Orang tua menemani anak bermain dan mencoba berbagai aktivitas untuk mengenali minat serta potensi anak sejak dini. Foto: Magnific

Mengenali bakat anak sejak dini kerap menjadi perhatian orang tua. Ada yang mulai mengamati ketertarikan anak pada musik, olahraga, atau menggambar, sementara yang lain ingin mengetahui bidang yang paling menonjol agar dapat memberikan stimulasi yang tepat. Namun, apakah bakat anak memang harus ditemukan sedini mungkin?

Masa kanak-kanak justru merupakan periode penting untuk mencoba berbagai pengalaman. Anak belajar mengenali lingkungan, mengembangkan keterampilan, dan menemukan hal-hal yang membuatnya tertarik. Minat tersebut pun dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman.

Psikolog klinis anak Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa anak, terutama yang berusia di bawah delapan tahun, masih berada dalam fase eksplorasi. Karena itu, orang tua tidak perlu terburu-buru menentukan satu bidang yang dianggap sebagai bakat utamanya.

“Di umur-umur anak di bawah delapan tahun, itu fase eksplorasi banget. Dia mau ngapain. Jadi, sebenarnya tugas kita tuh ngasih paparan lebih banyak,” ujar Saskhya dalam sesi konferensi pers Parentalk Festival 2026 (20/9) di Bintaro.

1. Bakat Anak Penting, tetapi Eksplorasi Jauh Lebih Dulu


Bakat dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mendukung perkembangan anak. Meski demikian, ketertarikan terhadap suatu aktivitas belum tentu langsung menunjukkan bakat yang menetap. Anak yang hari ini senang menari, misalnya, bisa saja beberapa minggu kemudian lebih tertarik merakit balok atau bermain bola.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses mengenal diri. Melalui berbagai pengalaman, anak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui aktivitas yang terasa menyenangkan, menantang, atau membuatnya ingin belajar lebih jauh.

Menurut Saskhya, semakin bertambah usia, anak umumnya semakin mampu menyaring pilihan berdasarkan ketertarikan dan kenyamanan dirinya. Ia menyebut usia sekitar 14 tahun sebagai salah satu fase ketika minat anak dapat terlihat lebih jelas setelah melewati beragam pengalaman eksplorasi. Namun, usia tersebut bukan batas mutlak untuk menemukan bakat.

Artinya, orang tua tidak perlu merasa tertinggal ketika anak belum menunjukkan minat yang spesifik. Alih-alih membandingkan perkembangannya dengan anak lain, berikan kesempatan untuk mencoba aktivitas yang beragam, mulai dari kegiatan seni, olahraga, permainan konstruksi, hingga aktivitas yang melibatkan kemampuan memecahkan masalah.

Orang tua juga dapat memperkenalkan berbagai profesi dengan cara yang sesuai usia. Anak tidak hanya mengenal pekerjaan dokter atau guru, misalnya, tetapi juga memahami bahwa ada banyak bidang lain yang bisa dipelajari ketika dewasa nanti.

“Tidak ada salahnya dikenalkan. Yang salah itu memaksa dan harusnya seperti ini,” jelas Saskhya. Dengan kata lain, mengenalkan pilihan berbeda merupakan bentuk dukungan, sedangkan memaksakan anak mengikuti harapan orang tua justru dapat membatasi ruang eksplorasinya.

Foto 1. (Kanan -Kiri) Audrie Napitupulu, Co-CEO Parentalk & Co-Chairman Parentalk Festival, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog dan Nadya Fitri, Senior Brand Manager Indomilk Kids, pada Press Conference Road to. Foto: Dok. Istimewa Audrie Napitupulu, Co-CEO Parentalk & Co-Chairman Parentalk Festival, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog dan Nadya Fitri, Senior Brand Manager Indomilk Kids, saat Press Conference Road to. Foto: Dok. Istimewa 

2. Bermain Bersama, Cara Sederhana Mengenali Keunikan Anak


Salah satu cara untuk mengenali minat anak adalah memperhatikan perilakunya saat bermain. Aktivitas bermain memberi anak kesempatan untuk mencoba, berkreasi, bergerak, dan berinteraksi tanpa harus selalu berorientasi pada hasil.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Child Development mengkaji 39 studi mengenai guided play atau bermain dengan pendampingan. Sebanyak 17 studi yang melibatkan total 3.893 anak berusia 1–8 tahun dianalisis lebih lanjut. Hasilnya menunjukkan manfaat guided play pada kemampuan tertentu, termasuk matematika awal, pemahaman bentuk, dan kemampuan berpindah tugas.

Temuan ini memperlihatkan bahwa bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Dengan pendampingan yang sesuai, bermain juga dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar sekaligus bagi orang tua untuk mengamati cara anak merespons pengalaman baru.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung proses tersebut.


- Berikan pilihan aktivitas yang beragam. Ajak anak mencoba menggambar, menyusun balok, berkebun, membaca buku, menari, atau bermain permainan edukatif. Tidak perlu langsung menentukan kegiatan yang harus dikuasai.

- Amati hal yang membuat anak penasaran. Perhatikan aktivitas yang membuatnya antusias, ingin mencoba kembali, atau berinisiatif mencari tahu lebih jauh.

- Hargai proses, bukan hanya hasil. Apresiasi keberanian mencoba, usaha, kreativitas, dan kemauan belajar, bukan semata-mata kemenangan atau prestasi.

- Hindari memberi label terlalu cepat. Anak yang belum tertarik pada suatu kegiatan bukan berarti tidak berbakat. Bisa jadi ia belum menemukan pengalaman atau pendekatan yang cocok.

- Ikuti minat anak tanpa kehilangan batasan. Orang tua tetap perlu memberikan arahan sesuai usia dan menjaga keselamatan, tetapi tidak harus mengendalikan setiap pilihan permainan.

Prinsip tersebut juga menjadi semangat Parentalk Festival 2026 yang mengajak keluarga mengenal keunikan anak melalui pengalaman bermain bersama.

Mengusung tema “Feel the Fun in Fruitopia!”, festival tahun kelima ini dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Konsep Fruitopia terinspirasi dari keberagaman buah yang memiliki warna, bentuk, dan rasa berbeda, sebagai gambaran bahwa setiap anak juga mempunyai karakter dan ketertarikan masing-masing.

Melalui lima elemen aktivitas, yaitu Explore, Create, Play, Connect, dan Grow, keluarga diajak mencoba pengalaman baru sekaligus membangun kedekatan. Rangkaian kegiatannya mencakup aktivitas sensorik dan motorik, face painting, storytelling, permainan edukatif seperti meronce dan hopscotch, hingga wahana RC Excavator.

“Setiap anak bisa tertarik pada aktivitas yang berbeda, bahkan minatnya dapat berubah seiring waktu dan pengalaman. Orang tua dapat memberi kesempatan untuk mencoba beragam hal, lalu mengamati apa yang membuat anak penasaran atau ingin dilakukan lagi,” jelas Saskhya.

Ia menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam proses tersebut. Mendengarkan, mengamati, dan mengikuti ketertarikan anak dapat membantu orang tua mengenal keunikannya tanpa buru-buru menentukan anak harus menjadi seperti apa.

Pada akhirnya, mengenali bakat bukan perlombaan untuk menemukan keunggulan anak paling cepat. Yang lebih penting adalah menyediakan ruang aman untuk bereksplorasi, memberi kesempatan mencoba hal baru, dan mendampingi anak ketika minatnya berkembang. Sebab, anak tidak harus segera tahu ingin menjadi apa. Ia perlu waktu dan pengalaman untuk mengenali dirinya sendiri. (LAI)

Baca juga:

Kembangkan Minat dan Bakat Anak Sejak Dini
Kegigihan Orang Tua Mengasah Bakat, Kunci Sukses Anak
Mainan-mainan Seru Pengasah Minat Akan Ilmu Pengetahuan

 


Topic

#TumbuhKembangAnak #ParentalkFestival2026



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>