Refleksi 50 tahun Save the Children Indonesia dalam memperkuat pemenuhan hak dan perlindungan anak di Indonesia. Foto: Dok. Ayahbunda
Di balik tumbuh kembang anak yang sehat, bahagia, dan percaya diri, ada ekosistem yang dibangun bersama. Bukan hanya oleh orang tua, tetapi juga sekolah, komunitas, pemerintah, hingga masyarakat luas. Semangat itulah yang diangkat Save the Children Indonesia melalui
Festival Pahlawan Anak, sebuah ruang kolaborasi yang mengajak Bunda, Ayah, dan seluruh keluarga mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi setiap anak.
Momentum ini sekaligus menjadi refleksi perjalanan
50 tahun Save the Children Indonesia dalam mengawal pemenuhan hak anak sejak 1976. Selama lima dekade, berbagai program di bidang kesehatan dan gizi, pendidikan, perlindungan anak, hingga kesiapsiagaan bencana telah dijalankan bersama berbagai mitra untuk memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia.
Namun, perjalanan tersebut masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Berdasarkan
Profil Anak Indonesia 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), sekitar 29,8 juta anak masih mengalami ketertinggalan pembelajaran. Di sisi lain, prevalensi stunting masih berada di angka 19,8 persen, sementara ribuan bencana yang terjadi sepanjang 2025 turut meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai risiko.
Situasi perlindungan anak juga masih memerlukan perhatian serius. Data SIMFONI-PPA mencatat lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual terhadap anak dan 12.160 kasus kekerasan fisik sepanjang 2025. Ironisnya, sekitar 60,1 persen kasus terjadi di lingkungan rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak.
Menurut
Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, perubahan besar bagi anak tidak mungkin diwujudkan oleh satu pihak saja.
"Selama 50 tahun, Save the Children Indonesia belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi. Berbagai capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa perubahan nyata bagi anak dapat terwujud ketika semua pihak bergerak bersama. Namun, perjalanan ini juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret dan berkelanjutan," ujar Dessy.
Dari Kebijakan hingga Partisipasi Anak
Selama lima dekade, Save the Children Indonesia turut berkontribusi dalam berbagai perubahan kebijakan yang memperkuat perlindungan anak. Di antaranya mendorong pengasuhan berbasis keluarga melalui Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) serta mendukung implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengasuhan Anak.
Organisasi ini juga memperkuat ruang partisipasi anak melalui
Children and Youth Advisory Network (CYAN), yang memberi kesempatan bagi anak dan remaja menyuarakan pandangan mereka, termasuk dalam isu perubahan iklim maupun keamanan di ruang digital.
Di bidang kesehatan, kampanye Stop Pneumonia yang dijalankan pada 2019–2022 turut mendorong masuknya vaksin
Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) ke dalam program imunisasi dasar nasional. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menyelamatkan sekitar 10.000 balita dari risiko kematian akibat pneumonia.
Mitra Save theChildren Indonesia berkomitmen bersama memperkuat perlindungan serta pemenuhan hak anak di Indonesia. Foto: Dok. Ayahbunda
Festival yang Mengajak Keluarga Terlibat
Sebagai bagian dari peringatan 50 tahun, Save the Children Indonesia akan menghadirkan Festival Pahlawan Anak pada 13–16 Agustus 2026 di Gandaria City, Jakarta.
Festival ini dirancang bukan sekadar menjadi perayaan, melainkan ruang belajar dan berkolaborasi bagi keluarga. Melalui berbagai dialog, aktivitas interaktif, dan pengalaman bersama, masyarakat diajak memahami bagaimana setiap orang dapat menjadi bagian dari ekosistem yang melindungi dan mendukung tumbuh kembang anak.
Bagi Bunda dan Ayah, festival ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa perlindungan anak tidak hanya dimulai dari rumah, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam lingkungan sekitar. Ketika keluarga, komunitas, sekolah, dunia usaha, media, dan pemerintah bergerak bersama, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh di lingkungan yang aman, inklusif, dan penuh dukungan.
Penyelenggaraan Festival Pahlawan Anak mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pakuwon Group, Narasi sebagai media partner, serta sejumlah tokoh publik dan para Festival Advisor yang bersama-sama mendorong terwujudnya gerakan kolektif untuk kepentingan terbaik anak.
Pada akhirnya, peringatan 50 tahun Save the Children Indonesia menjadi pengingat bahwa melindungi anak bukanlah pekerjaan satu organisasi atau satu keluarga semata. Masa depan anak dibangun melalui kolaborasi yang terus tumbuh, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat, belajar, merasa aman, dan berkembang sesuai potensinya.
Baca juga:
Dari Meluncur ke Mengayuh
Dari Stunting hingga Gizi Berlebihan Susu Pertumbuhan Jadi Sorotan
Jangan Hanya Lihat Klaim Kemasan, Ini Cara Cermat Memilih Susu Pertumbuhan untuk Anak