Percaya Takhayul, Anak Tak Perlu Dilarang

 

Foto:shutterstock


Berpikir takhayul pada anak adalah proses menghubungkan antara satu kejadian dengan kejadian lain yang tidak saling berhubungan. Tapi psikologpun terkadang menghubungkan cerita rakyat dengan takhayul dan pemikiran magis, karena tradisi ini menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan orang mengarah pada hasil tertentu, bahkan ketika hasilnya tidak dipengaruhi oleh peristiwa pertama.
 
Dari mana anak bisa punya pikiran takhayul? Ternyata ini adalah tahap perkembangan normal pada anak kecil atau batita. Dimulai dengan tahap berpikir egosentris, ia punya keyakinan bahwa apa yang dia lakukan dapat memengaruhi orang lain di sekitarnya.
 
Ia juga punya pemikiran bahwa makanan akan menjadi lebih enak kalau dia memakannya menggunakan sendok warna pink dan wadah warna ungu. Atau, dia punya pemikiran bahwa selimut bulunya dapat mengusir monster kolong tempat tidur.
 
Kali lain dia berpikir bahwa kalau dia berputar-putar, film favoritnya akan ditayangkan. Itu karena dia pernah berputar sekali, lalu acara kesukaannya muncul di televisi.
 
Jadi Bunda, kalau anak tidak mau melakukan sesuatu di rumah, mungkin dia punya pengalaman lain di tempat lain. Misalnya dia menolak menggunakan pispot karena dihubungkan dengan kloset di rumah neneknya yang tidak nyaman.
 
Apakah pemikiran ini bisa dihilangkan? Jawabnya: Tidak mudah, tetapi juga tidak perlu diubah. Biarkan saja, karena pemikiran ini akan hilang dengan sendirinya.  Anda hanya perlu menunjukkan kenyataan. Misalnya anak Anda yakin bahwa dengan berputar-putar film kesayangannya akan muncul di TV. Hadapkan pada TV di hari Minggu sore tanpa berputar, dan film itu muncul.
Biarkan saja anak dengan kebiasaannya itu tanpa mengaitkannya dengan pemikiran takhayulnya. (IR)

 
 
  

 


Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>