Anak-anak peserta DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 berdiskusi dan menjawab soal bersama dalam suasana kompetisi edukatif. Foto: Dancow
Kompetisi sering menjadi ruang bagi anak untuk mengasah kemampuan akademik sekaligus belajar memahami emosi diri. Di tengah tekanan untuk tampil baik, dukungan dari lingkungan sekitar dinilai memegang peranan penting agar anak tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga menikmati proses belajar.
Psikolog Anak dan Keluarga,
Saskhya Aulia, M.Psi., menilai perkembangan anak yang sehat dan cerdas membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sekitar. Menurutnya, pendampingan yang tepat dapat membantu anak lebih siap menghadapi tantangan belajar maupun kompetisi.
“Kalau mendukung anak supaya sehat dan cerdas, semuanya harus bekerja sama. Baik dari rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar,” ujar Saskhya.
Untuk mempermudah pola pendampingan, Saskhya memperkenalkan pendekatan sederhana melalui framework “3D”, yang berfokus pada proses tumbuh kembang anak secara emosional dan sosial.
Framework 3D untuk Mendampingi Anak
Pendekatan ini menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar dalam membantu anak merasa didukung, didengar, serta lebih percaya diri menghadapi tantangan belajar maupun kompetisi.
1. Dampingi
Pendampingan dilakukan selama proses belajar, bukan hanya melihat hasil akhirnya. Anak perlu merasa ditemani ketika belajar di rumah maupun saat berlatih di sekolah.
“Sekarang anak benar-benar didampingi prosesnya. Misalnya saat belajar di rumah atau latihan di sekolah, semangatnya ikut dibangun,” kata Saskhya.
2. Didengarkan
Anak juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan perasaan, termasuk rasa takut, gugup, atau tekanan saat belajar dan berkompetisi.
“Kadang anak merasa takut atau deg-degan. Dari situ kita bisa tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan dan butuhkan,” ujarnya.
3. Didefinisikan ulang
Menurut Saskhya, emosi seperti gugup tidak selalu harus dipandang negatif. Anak dapat dibantu melihat rasa gugup sebagai tanda kesiapan diri menghadapi tantangan.
“Di balik gugup itu sebenarnya badan dan otak sedang bersiap. Kalau anak melihatnya dengan perspektif lebih positif, mereka jadi lebih siap untuk mencoba lagi,” katanya.
Para pemenang seleksi tingkat provinsi DKI Jakarta dan Banten berpose bersama usai menerima penghargaan DANCOW Indonesia Cerdas Season 2. Foto: Dancow
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan berbagai kegiatan pembelajaran berbasis kolaborasi dan kompetisi yang kini banyak diikuti anak usia sekolah dasar. Salah satunya terlihat dalam program "DANCOW Indonesia Cerdas Season 2" yang tahun ini hadir dengan skala lebih luas, melibatkan 192.000 siswa dari 2.168 sekolah di 40 kota dan 15 provinsi se-Indonesia.
Dibagi menjadi tiga tahapan, saat ini kompetisi memasuki tahap seleksi tingkat provinsi untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten, yang digelar pada Senin, 18 Mei 2026 di Artotel Gelora Senayan. Ajang edukatif tersebut mempertemukan delapan sekolah dasar terpilih untuk menguji kemampuan literasi, numerasi, serta pemecahan masalah secara kreatif.
Fajar Dewantara, Saskhya Aulia, M.Psi., dan Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag. memberikan pemaparan mengenai pendidikan, stimulasi belajar, dan pendampingan anak dalam sesi diskusi. Foto: Dancow
Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia,
Fajar Dewantara, mengatakan proses belajar anak perlu didukung dengan stimulasi yang tepat agar kemampuan akademik dan karakter berkembang secara seimbang.
“Pemenuhan gizi yang tepat diimbangi stimulasi akan mendorong anak belajar lebih baik dan tumbuh menjadi individu tangguh yang siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkap Fajar.
Sementara itu, Category Marketing Manager DANCOW,
Johanlie Aliffin, dalam keterangan pers mengatakan bahwa menilai kompetisi edukatif dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi kemampuan sekaligus menikmati proses belajar.
“Kami berharap kompetisi ini menjadi wadah pembelajaran bagi para siswa untuk mengeksplorasi potensi mereka. Guru dan orang tua juga dapat mendorong anak untuk terus berani mencoba hal baru dan menikmati proses belajar,” kata Johanlie.
Dukungan terhadap pendidikan juga disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Biyanto, Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag. Menurutnya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan bersama.
“Pendidikan bergerak lambat tetapi punya daya dobrak yang hebat. Membantu anak meraih mimpi melalui pendidikan adalah tugas bersama,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya tekanan akademik pada anak usia sekolah, pendekatan pendampingan seperti framework 3D menjadi pengingat bahwa proses belajar bukan semata soal nilai dan kemenangan. Anak juga membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan dibantu melihat tantangan dengan sudut pandang yang lebih positif agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tangguh.
(LAI)
Baca juga:
Ruang Bermain Kini Jadi Bagian Penting Tumbuh Kembang Anak
6 Tip Agar Anak Tumbuh jadi Tangguh
Sindrom Turner pada Anak Perempuan: Deteksi Dini Lebih Awal, Tumbuh Optimal Lebih Nyata