Anak Sudah Makan Banyak tapi Tetap Pendek? Jangan Abaikan Kemungkinan Gangguan Hormon

 

 Edukasi mengenai tumbuh kembang anak, termasuk peran hormon, nutrisi, dan kualitas tidur terhadap tinggi badan. Foto: Pexels.

"Bunda, anaknya makannya banyak kok."

Kalimat itu sering menjadi penghibur ketika tinggi badan anak tampak tertinggal dibanding teman seusianya. Sayangnya, makan banyak bukan jaminan pertumbuhan berlangsung optimal.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A., Subsp.End(K)., FAAP, FRCPI (Hon.), mengingatkan bahwa tinggi badan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, hormon, nutrisi, hingga kualitas tidur dan lingkungan.

"Pertumbuhan normal merupakan kombinasi yang kompleks. Ada faktor genetik, nutrisi, dan hormon. Genetik saja tidak cukup."

Protein Berlebihan Bukan Jalan Pintas


Di era media sosial, berbagai tips agar anak cepat tinggi beredar luas. Salah satunya adalah memberikan protein dalam jumlah besar setiap hari.

Padahal, menurut Prof. Aman, cara tersebut justru dapat membahayakan kesehatan.

"Saya sudah menemukan pasien yang mengonsumsi protein sampai 400–500 gram per hari. Ginjalnya justru terganggu."

Ia juga mengingatkan bahwa memberikan susu tinggi kalori secara berlebihan kepada anak yang sebenarnya mengalami gangguan hormon tidak akan membuat tinggi badan bertambah.

Sebaliknya, anak justru berisiko mengalami obesitas.

Tidur Lebih Awal, Hormon Bekerja Lebih Optimal


Masih banyak anak yang tidur mendekati tengah malam karena bermain gawai atau menonton.

Padahal, hormon pertumbuhan bekerja terutama saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.

"Tidur tidak bisa didiskon. Deep sleep sangat penting untuk hormon pertumbuhan."

Karena itu, menjaga rutinitas tidur menjadi salah satu investasi penting selama masa pertumbuhan.

Jangan Terlalu Percaya Mitos


Prof. Aman juga menyoroti berbagai mitos yang masih dipercaya masyarakat.

Mulai dari anggapan semua anak pendek pasti stunting, hingga keyakinan bahwa anak akan tumbuh sendiri setelah remaja seperti beberapa atlet dunia.

Menurutnya, setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan.

"Kalau memang kurva pertumbuhannya turun, jangan menunggu. Segera konsultasi ke dokter anak."

Orang Tua Memegang Peran Terbesar


Selain pemeriksaan medis, edukasi orang tua menjadi kunci.

Memahami kurva pertumbuhan, memastikan anak tidur cukup, memenuhi kebutuhan gizi seimbang, serta tidak mudah percaya informasi yang belum terbukti menjadi bekal penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.

"Peran media dan edukasi orang tua sangat penting agar gangguan pertumbuhan bisa dikenali lebih dini."

Karena pada akhirnya, setiap anak berhak memperoleh kesempatan tumbuh sehat, percaya diri, dan mengejar cita-cita tanpa terhambat oleh masalah pertumbuhan yang sebenarnya bisa dikenali lebih awal.
 
Baca juga:

Happy Sweet Warnai Koleksi Terbaru Spring Summer 2026 KENZO Kids
Lima Dekade Mengawal Hak Anak, Festival Pahlawan Anak Ajak Keluarga Jadi Bagian dari Perubahan
Jangan Hanya Lihat Klaim Kemasan, Ini Cara Cermat Memilih Susu Pertumbuhan untuk Anak
 

 


Topic

#HariAnakNasional #AyahBunda



Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>