Anak memegang perutnya karena menahan sakit, menggambarkan gejala awal usus buntu pada anak yang sering kali sulit terdeteksi. Foto ilustrasi: Magnific
Sakit perut merupakan salah satu keluhan yang cukup sering dialami anak. Penyebabnya pun beragam, mulai dari gangguan pencernaan, sembelit, hingga infeksi. Namun, ketika rasa sakit semakin berat dan disertai gejala tertentu, orang tua perlu lebih waspada karena bisa saja menjadi tanda radang usus buntu atau apendisitis akut.
Pada diskusi media oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu,
Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi IDAI, apendisitis akut merupakan salah satu penyebab tersering operasi darurat pada saluran pencernaan.
Tantangannya, gejala usus buntu pada anak tidak selalu mudah dikenali. Terlebih pada anak yang masih kecil dan belum mampu menjelaskan lokasi maupun karakter rasa sakit yang dirasakan.
Gejala Usus Buntu pada Anak Bisa Berkembang
Pada anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa, usus buntu dapat menunjukkan pola gejala yang cukup khas.
Biasanya, anak mengalami penurunan nafsu makan. Setelah itu, muncul sakit perut di sekitar pusar atau ulu hati. Anak kemudian dapat mengalami muntah, lalu rasa sakit berpindah ke bagian kanan bawah perut, sesuai dengan lokasi usus buntu.
Karena pada awalnya rasa sakit dapat muncul di bagian tengah perut atau ulu hati, keluhan ini sering kali dianggap sebagai sakit lambung atau gangguan pencernaan lainnya.
Namun, Bunda dan Ayah tidak perlu menunggu sampai rasa sakit berpindah ke kanan bawah untuk mulai waspada. Tidak semua anak mengalami gejala khas yang sama. Pada anak yang lebih kecil, gejalanya dapat menyerupai berbagai kondisi lain, seperti infeksi saluran pencernaan, sembelit, infeksi saluran kemih, dan beberapa penyebab sakit perut lainnya.
“Kalau tidak ada gejala klasik, artinya bukan berarti penyakit itu bukan apendisitis atau usus buntu,” ujar dokter Himawan.
Karena itu, yang penting bagi orang tua adalah memperhatikan perubahan gejala dan tingkat keparahan rasa sakit. Jika keluhan semakin berat, anak perlu segera diperiksa.
Kenali Tanda Bahaya Sakit Perut pada Anak
Lantas, kapan sakit perut anak perlu segera diperiksakan?
Dokter Himawan mengingatkan beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian Bunda dan Ayah, antara lain:
- Sakit perut yang
semakin berat
- Nyeri terutama terasa di
perut kanan bawah
- Sakit bertambah ketika anak
bergerak, berjalan, atau melompat
-
Muntah setelah sakit perut muncul
- Sakit perut disertai
demam
- Perut terasa sangat sakit ketika
disentuh atau ditekan ringan
- Anak tampak sangat kesakitan, lemas, cenderung ingin tidur, atau merintih
“Sebagai orang tua, sangat penting sekali untuk memantau apakah gejala anak yang menderita sakit ini bertambah ataupun intensitasnya bertambah berat atau tidak,” jelas dokter Himawan.
Meski demikian, bukan berarti setiap anak yang mengalami sakit perut pasti terkena usus buntu. Berbagai penyakit lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Mengapa Usus Buntu pada Anak Lebih Sulit Dikenali?
Kemampuan anak untuk menjelaskan keluhannya menjadi salah satu tantangan dalam mengenali usus buntu.
Pada anak yang lebih besar, dokter dapat menanyakan lokasi dan karakter rasa sakit. Sementara itu, pada anak yang belum dapat berbicara atau menjelaskan rasa sakit dengan baik, dokter perlu menilai berbagai tanda dan gejala yang muncul.
Selain itu, gejala usus buntu dapat menyerupai gangguan pencernaan lainnya. Kondisi inilah yang membuat diagnosis pada anak, terutama anak yang masih kecil, menjadi lebih menantang.
Usus buntu juga perlu mendapat perhatian karena anak berusia di bawah lima tahun lebih sering mengalami komplikasi berupa
perforasi atau kebocoran usus buntu dibandingkan anak yang lebih besar.
Ketika terjadi perforasi, dinding usus buntu yang mengalami peradangan dapat mengalami kerusakan hingga bocor. Kondisi tersebut dapat menyebabkan isi usus buntu keluar dan memicu infeksi di rongga perut.
“Sudah ketemu (gejala) nya susah, tetapi begitu ketemu, sudah bocor. Sehingga perlu operasi besar,” kata dokter Himawan.
Benarkah Gara-gara Biji Cabai atau Jambu?
Mitos tentang usus buntu masih banyak dipercaya di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa makan biji cabai atau biji jambu dapat menyebabkan usus buntu.
Menurut dokter Himawan, anggapan tersebut merupakan mitos. Biji-bijian tidak secara langsung menyebabkan radang usus buntu dengan cara menyumbat lubang usus buntu.
Penyumbatan pada muara usus buntu dapat terjadi karena berbagai hal. Pada anak, salah satunya dapat berkaitan dengan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar usus yang terjadi ketika mengalami infeksi saluran pencernaan.
Begitu pula dengan anggapan bahwa sembelit secara langsung menyebabkan usus buntu. Menurut dokter Himawan, keduanya tidak memiliki hubungan langsung.
“Biji-bijian tidak secara khusus menyumbat usus buntu sehingga menyebabkan radang usus buntu. Jadi, sebenarnya itu adalah mitos,” jelasnya.
Apa yang Harus Dilakukan Bunda dan Ayah?
Ketika anak mengalami sakit perut, orang tua dapat memberikan obat pereda nyeri sederhana seperti parasetamol sebagai pertolongan awal. Namun, jika muncul tanda bahaya, jangan menunda pemeriksaan ke dokter.
Dokter akan menilai gejala dan tanda yang muncul untuk menentukan tingkat risiko. Bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti
ultrasonografi (USG),
CT scan, atau
MRI dapat dilakukan sesuai kondisi anak dan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Jika hasil penilaian menunjukkan risiko tinggi, dokter dapat segera berkonsultasi dengan dokter bedah untuk menentukan penanganan selanjutnya. Sementara itu, pada kondisi yang masih meragukan, pemeriksaan radiologi dapat membantu memastikan diagnosis.
Sebagian besar kasus usus buntu membutuhkan operasi. Namun, pada kondisi tertentu, terutama apendisitis akut sederhana, dokter dapat mempertimbangkan penanganan tanpa operasi. Keputusan tersebut tetap harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, bukan keputusan orang tua sendiri.
Masa pemulihan setelah operasi juga bergantung pada kondisi usus buntu. Pada kasus sederhana, pemulihan dapat berlangsung lebih cepat. Sementara itu, jika usus buntu sudah bocor dan menyebabkan infeksi yang lebih luas, proses pemulihan dapat membutuhkan waktu lebih lama.
Karena itu, pesan penting bagi Bunda dan Ayah adalah
jangan menyepelekan sakit perut yang semakin berat pada anak.
“Jangan sampai terlambat untuk membawa anaknya berobat ke dokter. Karena pada anak kecil, waktu itu sangat penting sekali,” tegas dokter Himawan.
Bunda dan Ayah, mulai sekarang jangan hanya memperhatikan
di mana anak merasa sakit, tetapi juga
bagaimana gejalanya berkembang. Jika sakit perut semakin berat, disertai muntah atau demam, atau anak tampak sangat sakit, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.
Simpan artikel ini dan bagikan kepada sesama orang tua agar semakin banyak Bunda dan Ayah yang mengenali tanda bahaya usus buntu pada anak. (LAI)
Baca juga:
Begini Cara Membaca Buku KIA agar Orang Tua Bisa Mendeteksi Gangguan Tumbuh Kembang Anak
Operasi Usus Buntu Saat Hamil, Boleh
Anak Sudah Makan Banyak tapi Tetap Pendek? Jangan Abaikan Kemungkinan Gangguan Hormon