Jangan Bangga Dapat Resep Obat!

 

Panik melihat anak sakit, tak jarang memicu kita mencekoki anak dengan sederet obat. Tenang Bu! Kita tak boleh serampangan memberi obat buat anak, lho!

Berbekal keinginan kuat agar tak salah tindakan saat anak sakit, jalanan senyap di Sabtu pagi, 19 Juli 2008, tak menyurutkan derap langkah para bunda dan ayah untuk hadir di acara Jumpa Pakar di Jakarta International Club, Wisma BNI 46 Jakarta. Temanya tentu membuat para orang tua balita antusias: "Kapan Harus ke Dokter?". Tentu saja butuh trik untuk menjawab pertanyaan ini.

Dokter anak terbaik? Ya, Orang tua! Pakar kesehatan anak, dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed yang jadi pembicara, sangat prihatin mendengar betapa sulinya orang tua masa kini mencari layanan kesehatan terbaik untuk anak, sebab, "Tak jarang saat anak sakit harian seperti pilek, batuk, demam, muntah atau diare, justru orang tua memperoleh resep yang sebenarnya tidak dibutuhkan".

Dokter yang akrab dipanggil dr. Wati itu merujuk pada technical briefing seminar WHO pada 2004 perihal Kebijakan Obat Esensial. Diungkapkan, di negara berkembang jumlah obat yang tidak perlu diresepkan, mencapai 39 hingga 59%. Angka itu membuat miris, dokter yang akrab disapa dr. Wati ini, karena tingginya konsumsi obat yang tidak perlu, sehingga menjadi over medicated. Dokter Wati mengamati, antrean mengular di rumah sakit, didominasi penyakit anak yang ringan, seperti flu yang sebetulnya tidak perlu antibiotik.

 "Kunjungan ke dokter adalah untuk konsultasi medis dan tidak harus membawa pulang obat," terang dr. Wati. Orang tua tak perlu merasa rugi jika dokter tidak meresepkan obat.

Lantas, kapan harus ke dokter kalau anak sakit? Dokter Wati mencontohkan, anak yang terserang flu perlu diajak ke dokter jika demam lebih dari 72 jam, batuk membandel lewat satu minggu, sesak nafas, bibir membiru dan mengantuk terus. Namun jika gejalanya lebih ringan dari itu, bisa ditangani sendiri di rumah. Lain ceritanya, jika si anak memang sakit serius yang membutuhkan perawatan. Disinilah pentingnya, orang tua bersikap cerdas dalam menyikapi kondisi anak.

Penyakit ringan lainnya. Seperti halnya flu, penyakit anak lain seperti demam dan diare, juga kerap diberikan antibiotika. Padahal, semakin sering anak memperoleh antibiotika, tubuh mereka malah gampang sakit karena biang penyakit menjadi kebal terhadap antibiotika. Sebenarnya, cukup diusahakan anak sering diberi cairan dibarengi cukup istirahat untuk flu dan minum oralit untuk diare. Menurut dr. Wati, penyakit ringan seperti itu justru latihan bagi tubuh anak dalam memperkokoh sistem imun anak. Obat tidak bisa membunuh infeksi virus, melainkan sistem imun manusia sendiri yang akan menggilas si virus, bakteri atau biang penyakit lainnya.

Catur Meiwanto


 


Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>