Karakter kambing kecil bernama Will beraksi di lapangan roarball bersama hewan-hewan besar dalam film animasi produksi Sony Pictures Animation. Foto: Sony Pictures Animationm
Bunda Ayah, kisah tentang si kecil yang menantang dunia selalu punya tempat hangat di hati keluarga. Dari studio di balik Spider-Man: Across the Spider-Verse dan deretan kreator animasi berani,
Sony Pictures Animation menghadirkan film aksi-komedi berlatar dunia hewan serba dinamis:
GOAT. Sebuah cerita tentang keberanian, kerja keras, dan mimpi besar yang terasa dekat dengan perjalanan tumbuh kembang anak.
Film ini menghadirkan sosok Will, seekor kambing kecil dengan mimpi raksasa yakni ingin menembus liga profesional olahraga
roarball—cabang penuh kontak fisik yang didominasi hewan-hewan besar dan garang. Di dunia tempat “yang besar” dan “yang kecil” hidup berdampingan, dan mereka mengenal lapangan
roarball sebagai wilayah para raksasa. Tak jarang jargon “Smalls don’t ball” (yang kecil tidak bisa main
roarball) sangat sering terdengar sebagai ejekan yang menciutkan nyali. Namun Will ingin membuktikan sebaliknya: “smalls can ball!” (orang kecil pun bisa main
roarball).
Mane Attraction menggiring bola roarball di lapangan berlatar lava dengan ekspresi penuh percaya diri. Foto: Sony Pictures Animationm
Sutradara
Tyree Dillihay menyebut film ini sebagai kisah penting soal mental seorang pecundang. Ia menambahkan, “
Ini adalah film olahraga yang bagus itu emosional, inspiratif, dan transenden. Film-film tersebut menginspirasi orang untuk ingin berjuang menjadi hebat. Tapi film-film itu juga lucu.” . Ada sosok badak, beruang kutub, dan kambing kecil dengan aksesori mencolok beradu di lapangan basket yang mengundang gelak tawa, sekaligus rasa haru ketika sang pahlawan berjuang penuh demi ambisinya.
Sebagai produser, bintang NBA
Stephen Curry pun menghadirkan permainan di lapangan basket plus budaya yang biasa terjadi di sekitarnya. “Kami menyertakan aksesori, pakaian, soundtrack yang keren—referensi budaya yang bisa ditertawakan dan diapresiasi oleh semua orang," ujarnya. Menurutnya, ini adalah kisah yang akan tetap relevan bahkan 20 tahun mendatang.
Will - disuarakan oleh
Caleb McLaughlin - yang melihat refleksi banyak remaja dalam karakter tersebut. “Kita semua pernah merasa seperti pihak yang diremehkan,” kata Caleb. “Kita semua pernah merasa seperti pihak yang diremehkan.” Kalimat ini terasa seperti pengingat bagi anak-anak yang sedang belajar bangkit dari rasa minder.
Film Goat berkisah soal perjuangan kambing kecil yang mengejar bola di lapangan roarball raksasa. Foto: Sony Pictures Animationm
Di sisi lain, karakter Jett Fillmore—bintang liga yang disuarakan
Gabrielle Union—menghadirkan lapisan cerita tentang ego, tekanan, dan arti kerja tim. “Jett harus belajar menghargai rekan satu timnya,” kata Union. Hubungan Jett dan Will berkembang dari ketegangan menjadi persahabatan yang hangat, memperlihatkan bahwa keberhasilan tak pernah lahir sendirian.
Film ini terinspirasi dari buku ilustrasi “Funky Dunks” karya
Chris Tougas, lalu berkembang menjadi semesta penuh enam biome dengan arena roarball unik—dari lapangan berselimut es hingga wilayah berapi. Visualnya memadukan budaya basket, street culture, musik hip hop, dan sentuhan teknologi mutakhir seperti Unreal Engine untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif.
Yang membuat film ini relevan bagi keluarga adalah pesan tentang mimpi dan dukungan orang tua. Dalam cerita, ibu Will sejak kecil menanamkan keyakinan bahwa ia bisa menjadi game changer/ pengubah nasib. Pesan sederhana, tetapi berdampak panjang. Co-director
Adam Rosette menegaskan, “Ini tentang bagaimana rasanya memiliki mimpi… Jika Anda pernah memiliki mimpi—film ini untuk Anda. Ada kehangatan, ada kerja keras, dan ada humor.”
Bunda Ayah,
roarball mungkin fiksi, tetapi tekanan sosial, rasa diremehkan, hingga
imposter syndrome adalah nyata. Film ini mengajak keluarga berdialog: bagaimana menyikapi perbedaan fisik, bagaimana membangun kepercayaan diri anak, dan bagaimana menanamkan nilai kerja sama sejak dini.
Di tengah adegan laga yang hiperkinetik dan humor fisik khas hewan, terselip refleksi bahwa setiap anak punya “double bounce”-nya sendiri—langkah unik yang membuatnya berbeda. Ketika lingkungan berkata tidak mungkin, keluarga bisa menjadi suara pertama yang berkata, “Coba lagi.”
Film ini membuka percakapan tentang arti menjadi "sisi terhebat sepanjang masa"-nya versi masing-masing. Bukan soal ukuran tubuh, melainkan keteguhan hati. Seperti kata Curry, “Ini tentang kekuatan tim… Kita tidak bisa melakukan hal hebat apa pun tanpa orang-orang di sekitar .” Sebuah pesan yang layak dibawa pulang dari bioskop ke ruang keluarga.
Baca juga:
Petualangan Menyelamatkan Pulau Terkutuk yang Ajarkan Keberanian
Bisa Banget lho, Belajar Emosi Anak Remaja dengan Menonton Film Inside Out 2
Petualangan Garfield dan Sang Ayah. Se-Seru itu?