Ritme tubuh, hormon prolaktin dan oksitosin, serta konsistensi sangat penting menjaga produksi ASI ibu aktid tetap optimal. Foto: Freepik
Di tengah dinamika kehidupan modern, semakin banyak perempuan menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus individu aktif di ruang publik. Tantangan pun muncul, terutama dalam mempertahankan pemberian ASI secara optimal. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan cakupan ASI eksklusif masih berada di kisaran 66–67 persen—menandakan masih adanya hambatan, khususnya saat ibu kembali beraktivitas pascamelahirkan.
Dalam momentum Hari Kartini, sebuah sesi edukasi acara "New Product Launching eufy Baby Category", menghadirkan perspektif baru bahwa menyusui tidak harus berhenti ketika aktivitas meningkat. Dengan pemahaman yang tepat serta dukungan yang relevan, ibu aktif tetap bisa menjaga kualitas pemberian ASI.
Ritme Tubuh dan Emosi, Fondasi Menyusui Optimal
Pakar laktasi
Jamilatus Sadiyah menegaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme alami yang mendukung proses menyusui. Dua hormon utama berperan penting, yakni prolaktin dan oksitosin.
“Prolaktin berperan dalam produksi ASI, sementara oksitosin membantu pengeluaran ASI. Produksi ASI meningkat ketika ibu rutin menyusui atau memompa, sesuai prinsip supply and demand,” jelasnya.
Konsistensi menjadi kunci. Semakin sering ASI dikeluarkan, semakin tubuh merespons dengan meningkatkan produksi. Sebaliknya, jeda yang terlalu lama justru membuat produksi menurun secara alami.
Namun, faktor fisik bukan satu-satunya penentu. Kondisi emosional turut berpengaruh besar. Rasa tenang, nyaman, dan percaya diri dapat memperlancar aliran ASI, sementara stres atau kelelahan justru menjadi penghambat.
“Kondisi emosional yang stabil membantu refleks oksitosin bekerja lebih optimal. Ini sering kali luput dari perhatian,” tambah Jamilatus.

Suasana sesi edukasi laktasi pada acara New Product Launching eufy Baby Category oleh eufy sub-brand Anker Innovations di Hari Kartini, membahas dukungan teknologi untuk ibu aktif menyusui. Foto: Dok. Eufy Baby
Strategi Praktis dan Dukungan Teknologi
Bagi ibu aktif, menjaga konsistensi menyusui membutuhkan strategi yang realistis. Beberapa langkah sederhana dapat membantu mempertahankan ritme:
- Menjaga jadwal menyusui atau pumping secara rutin
- Tidak melewatkan sesi pumping meski di tengah kesibukan
- Menggunakan perangkat yang praktis dan nyaman
- Menyesuaikan ritme dengan kebutuhan tubuh dan bayi
Indikator kecukupan ASI juga penting dipahami secara objektif, seperti kenaikan berat badan bayi sesuai kurva pertumbuhan, frekuensi buang air kecil minimal enam kali per hari setelah hari keenam, serta perubahan feses yang sesuai usia.
Selain itu, pengelolaan ASI perah menjadi bagian krusial bagi ibu bekerja. Penyimpanan dengan wadah khusus, pelabelan waktu, hingga proses pencairan bertahap menjadi langkah penting menjaga kualitas ASI.
Seiring perkembangan zaman, teknologi turut mengambil peran dalam mendukung perjalanan menyusui. Inovasi seperti pompa ASI handsfree dengan teknologi terapi hangat dirancang untuk memberikan fleksibilitas sekaligus kenyamanan, memungkinkan ibu tetap beraktivitas tanpa mengganggu proses
pumping.
Alex Woo, Country Go To Market Manager Anker Innovations Indonesia, menyampaikan bahwa kebutuhan ibu modern terus berkembang.
“Kami melihat ibu masa kini ingin tetap produktif tanpa mengorbankan pemberian ASI. Inovasi yang menghadirkan kenyamanan dan fleksibilitas menjadi bagian dari solusi tersebut,” ujarnya.
Senada,
Vini Millatina Urfani, Country Brand Manager Anker Innovations, menekankan pentingnya dukungan nyata bagi ibu.
“Menjadi ibu dan berkarier bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan. Dukungan yang tepat membantu keduanya berjalan seimbang,” jelasnya.
Sementara itu, Jamilatus kembali menegaskan bahwa aspek paling mendasar tetap pada konsistensi dan kenyamanan.
“Ketika ibu merasa nyaman dan memiliki dukungan yang memadai, peluang untuk mempertahankan ASI eksklusif menjadi lebih besar,” ungkapnya.
Menyusui di tengah kesibukan bukan hal yang mustahil, Bunda. Saat ritme tubuh dipahami, emosi dijaga tetap seimbang, dan dukungan hadir—baik dari keluarga, lingkungan kerja, maupun teknologi—perjalanan menyusui bisa tetap optimal tanpa harus mengorbankan aktivitas. Peran sebagai ibu dan perempuan aktif tidak perlu dipersempit menjadi pilihan yang saling meniadakan. Dengan dukungan yang tepat dan akses informasi yang memadai, setiap Bunda dapat menjalani perannya secara utuh, nyaman, dan penuh percaya diri.
Penulis: Laili
Baca juga:
Amankah Hamil dan Menyusui Setelah Vonis Kanker Payudara?
Breastfeeding Family: Konsep Menyusui Masa Kini
15 Hal yang Dapat Dilakukan Busui di Antara Waktu Menyusui