Gaya Asuh Keluarga Jepang

 

Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga berbeda dan unik. Inilah cerita Tai Horikawa, warga negara Jepang tentang perannya sebagai Ayah bagi Hana Horikawa (5) dan Sora Horikawa (2), dan pola asuh yang diterapkan di keluarganya.

Menjadi ayah berarti mendapat  tanggung jawab lebih dan kehilangan kebebasan. Ini fase yang sangat penting sebagai laki-laki. Saya merasakan ikatan dan rasa saling tergantung dalam sebuah kelompok. Hal yang paling menakjubkan adalah saya  bisa belajar banyak dari anak saya.

Saya merasakan cinta yang tulus pada anak. Di luar rumah, Saya adalah "orang bisnis" yang sangat perhitungan ketika berhubungan dengan klien. Tapi dengan anak, semua pemberian saya tanpa menuntut balas. Kalau dibalas saya  senang dan bersyukur, kalau tidak juga tak masalah.

Ada cuti melahirkan untuk ayah di Jepang, jadi tidak hanya ibu yang punya hak cuti. Lamanya tergantung kebijakan perusahaan. Biasanya satu sampai dua bulan. Ibu  berhak mengambil cuti satu tahun setelah anak lahir dan bisa kembali bekerja seperti biasa. Meski begitu, jarang lelaki Jepang mengambil hak cuti untuk mengurus anaknya karena etos kerja yang tinggi.

Weekdays bagi saya adalah bekerja, sementara anak-anak bersama ibunya. Saat weekend adalah waktu yang saya manfaatkan semaksimal mungkin. Kami  makan bersama di restoran, jalan-jalan ke pusat rekreasi seperti Taman Mini Indonesia Indah atau Taman Safari.  Di Indonesia, istri saya, Tomoko, tidak bekerja, sementara di Jepang, ia bekerja. Di Jepang, anak kami titipkan di daycare. Biayanya  mahal tapi ada bantuan dari pemerintah. Di Jepang, karena istri saya bekerja, kami berbagi tugas untuk  menjaga anak kami. Di Indonesia tugas istri saya untuk menjaga anak.

Soal mengajarkan disiplin, Saya ayah yang fleksibel. Kalau anak-anak biasanya tidur jam 8, tidak apalah  ia tidur lebih malam saat weekend atau saat kami berkunjung ke rumah teman atau kerabat. Ketika anak paham diajak bicara, saya jelaskan padanya mengapa aturan dibutuhkan.   Di Jepang, orang yang merasa belum makmur harus menerapkan disiplin keras pada diri dan keluarganya. Tapi bila ia sudah merasa berkecukupan, ia akan lebih fleksibel.

Ada tipe keluarga yang membiasakan bayi mereka tidur sendiri sejak lahir. Tidak dengan keluarga kami. Saya dan istri bertiga tidur dengan bayi di satu kasur. Menurut saya itu bisa memperkuat bonding antara orangtua dengan anak. Saya tidak pernah bangun malam, istri saya yang bangun malam. Sampai anak agak besar, dia pindah ke tempat tidurnya sendiri tapi masih satu kamar dengan kami.  Anak ke dua tidur bertiga dengan kami juga. Di Jepang, anak mendapat  kamar sendiri ketika usianya 6 tahun.

Saya punya cara sendiri menghadapi tantrum anak. Saat anak ngamuk, Saya biarkan dia marah sampai puas, setelah itu saya bantu menenangkannya dengan mengalihkan perhatian pada hal lain. Ketika dia memaksa meminta sesuatu  sampai menangis, saya lihat dulu apakah ia benar-benar sangat menginginkannya. Akan saya pertimbangkan kalau ia memang benar-benar menginginkannya dan menunjukkan usaha sampai dapat. Menurut saya, tantrum atau marah cara anak berekspresi.

Kami punya kebiasaan penting di meja makan. Sejak dini anak-anak dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih dan hormat pada makanan yang disajikan. Sebelum makan kami mengucapkan "itadakimasu" dan saling membungkuk. Selesai makan kami mengucapkan "gochisousamadeshita." Itu adalah ungkapan terima kasih kepada orang yang telah membuat makanan  sampai tersaji dengan rasa yang lezat. Anak perempuan saya, Hana, biasanya ikut membantu ibunya mengatur meja. Ia senang sekali meniru apa yang dilakukan ibunya. Jika ada anak atau orang lain yang tidak sopan dengan makanan di meja ia akan diberi peringatan. Jika tidak mendengarkan dia akan dihukum dengan tidak diberikan dessert setelahnya.

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>