Jejak Cerita Dari Karakter Ke Kehidupan

 

 Peserta membuat mainan kucing yang diuji langsung oleh kucing, juga ada sesi bermain dan doorprize Tucing Berlari. Foto: Dok. Tucing Berlari

Perkembangan intellectual property (IP) lokal tak lagi berhenti pada karya visual atau produk turunan. Kini, IP mulai bergerak menjadi pengalaman nyata yang melibatkan interaksi lintas generasi. Inisiatif ini terlihat dalam gelaran Tucing Berlari, sebuah acara fun walk kolaborasi acara dari TFR News dan kreator IP lokal Ibu Tucing, yang berlangsung pada 1–3 Mei 2026 di ICE BSD City, bersamaan dengan PetFest 2026.

Karakter Ibu Tucing yang lahir dari tangan seniman Bia Maquilla sejak 2019, terinspirasi dari kucing peliharaan bernama Tucing, kini menjelma menjadi ruang temu baru. Bukan sekadar ilustrasi, tetapi medium yang mempertemukan keluarga, komunitas, dan pencinta hewan dalam satu pengalaman kolektif.

Dari Ilustrasi ke Interaksi Nyata


Transformasi IP menjadi pengalaman bukan hal baru secara global, namun di ranah lokal, pendekatan ini masih berkembang. Tucing Berlari menjadi contoh bagaimana karakter dapat dihidupkan melalui aktivitas sederhana seperti jalan santai sejauh 2 kilometer yang dirancang ramah keluarga.

CEO TFR News sekaligus co-founder acara ini, Christine Laifa, menyoroti potensi besar IP lokal yang belum sepenuhnya dieksplorasi.
“Selama tiga tahun terakhir, banyak IP lokal memiliki potensi besar. Melalui aktivitas seperti ini, harapannya IP lokal bisa menghadirkan alternatif selain merchandise, sekaligus membangun komunitas dengan penggemarnya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran pendekatan, dari konsumsi pasif menjadi partisipasi aktif. IP tidak lagi hanya dinikmati, tetapi dialami.

 Christine Laifa dan Bia Maquilla berfoto bersama komunitas dan media dalam suasana Halal Bi Halal Tucing Berlari di The Cat Cabin. Foto: Dok. Tucing Berlari

Ruang Sosial Baru bagi Komunitas


Mengusung tema “Petropolis; The City Where Pets Belong”, rangkaian acara ini menghadirkan kombinasi interaksi, hiburan, dan edukasi. Tak hanya berfokus pada kucing, kegiatan ini juga terbuka bagi berbagai komunitas pencinta hewan.

Kolaborasi dengan komunitas seperti Cat Sitter Indonesia, Jakarta Ramah Hewan, hingga Yayasan Peduli Kucing memperluas makna acara. Tucing Berlari bukan sekadar kegiatan rekreatif, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan beragam latar belakang dalam satu kepentingan bersama: kepedulian terhadap hewan.

Bagi kreator di balik karakter, pengalaman ini menghadirkan dimensi baru dalam berkarya.
“Pertama kali mendengar ide ini, rasanya tidak menyangka karakter yang dibuat bisa berkembang menjadi proyek sebesar ini. Ada rasa haru sekaligus semangat untuk terlibat langsung,” ungkap Bia.

Keterlibatan langsung kreator dalam pengembangan acara menjadi salah satu kunci autentisitas, menjaga agar esensi karakter tetap terasa meski formatnya berubah.

Lebih dari Sekadar Jalan Santai


Tucing Berlari dirancang sebagai kegiatan inklusif yang dapat diikuti berbagai usia. Selain fun walk, terdapat aktivitas pendukung seperti lomba membuat mainan kucing dan sesi interaksi langsung dengan hewan. Pendekatan ini menciptakan pengalaman multisensori yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga edukatif.

Momentum Halal Bi Halal yang digelar sebelumnya di The Cat Cabin, Jakarta Selatan, menjadi ruang awal mempertemukan komunitas dan media. Format yang santai memperlihatkan bahwa interaksi informal justru mampu memperkuat keterhubungan antarindividu.

Kehadiran berbagai mitra juga menunjukkan bahwa ekosistem IP lokal mulai tumbuh secara kolaboratif. Dukungan lintas sektor membuka peluang bagi pengembangan format serupa di masa mendatang.

IP Lokal dan Masa Depan Pengalaman Kolektif


Fenomena seperti Tucing Berlari menandai arah baru dalam pengembangan IP lokal. Ketika karakter tidak hanya hadir di layar, tetapi juga dalam aktivitas nyata, tercipta peluang membangun kedekatan emosional yang lebih kuat.

Pendekatan berbasis pengalaman ini juga memperluas fungsi IP sebagai alat edukasi, hiburan, sekaligus penggerak komunitas. Dalam konteks keluarga, kegiatan seperti ini menjadi medium untuk mempererat hubungan melalui aktivitas bersama yang sederhana namun bermakna.

Di tengah rutinitas yang padat, momen berjalan bersama, berbagi tawa, dan berinteraksi dengan hewan dapat menjadi ruang sederhana untuk memperkuat kedekatan dalam keluarga. Bagi Bunda dan Ayah, pengalaman seperti ini bukan hanya tentang aktivitas luar ruang, tetapi juga tentang membangun kenangan yang tumbuh dari kebersamaan.
Penulis: Laili

Baca juga:

Kartini Hari Ini: Dukungan Kuat, Ibu Kuat
Ketika Dongeng Menari di Atas Es dan Menyatukan Keluarga
Mencegah Stunting Lewat Edukasi dan Peran Orang Tua di Era Digital

 


Topic

#PetFest2026



Artikel Rekomendasi

Load more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>