Balita Suka Mengalah, Tak Selalu Baik

 

Si balita sering mengalah, memang baik. Tapi dia perlu juga mempunyai sikap asertif!

Selalu mengalah. Di sekolahnya, balita tampil sebagai anak baik. Ia selalu mengalah pada semua teman. Hingga, saat antri bermain ayunan, dia selalu mengalah pada teman yang menyerobot antreannya. Atau, dia diam saja ketika mainannya diambil teman. Balita ini sama sekali tak kelihatan usahanya mempertahankan apa yang menjadi miliknya saat itu.

Perhatikan karateristik balita
. Jika sikap mengalah didukung sikapnya yang penuh percaya diri, dan mampu memilah kapan ia perlu mengalah dan kapan ia perlu mempertahankan diri, maka balita tergolong anak yang matang. Ia tak seperti anak seusianya yang masih kental sikap emosinya. Namun, bila karena balita kurang percaya diri sehingga selalu mengalah pada teman, orang tua perlu hati-hati. Saatnya Anda mengajarkan sikap asertif pada anak atau sikap yang berani mempertahankan diri dari kemauan orang lain yang ingin menguasainya.
  • Bangun rasa percaya diri. Seringkali balita selalu mengalah karena ia tak berani menampilkan dirinya sendiri, apalagi melawan orang lain yang dirasakan menggangunya. Untuk itu, bantu balita membangun rasa percaya dirinya. Jelaskan bahwa ia punya kemampuan sama seperti teman-temanya. Dia sama pintarnya, sama beraninya, sama cakapnya dan lainnya.
  • Beri kesempatan bersosialisasi. Karena kurang mendapat kesempatan bersosialisasi, balita menjadi kurang pergaulan, pemalu, dan kurang percaya diri untuk berinteraksi. Ajak anak beriteraksi dengan sebayanya. Misalnya, saat berkumpul bersama para sepupu seusianya, bermain bersama anak-anak tetangga, atau teman di sekolahnya.
  • Latih berkata ‘Tidak’. Kemampuan menuruti dan minta tolong atau pendapat orang lain yang lebih baik, perlu dikembangkan pada balita sejak dini. Seiring dengan pengembangan kemampuan ini, anak perlu juga dilatih berani berkata “tidak” terhadap hal-hal yang dirasakannya tidak sesuai dengan nilai, keyakinannya dan harga dirinya. Jelaskan pada balita bila ia merasa keberatan atau tidak nyaman terhadap sesuatu yang diminta orang lain. Dia berhak untuk berkata “tidak”!
  • Ajarkan waktu yang tepat. Anda jelaskan pula kapan saatnya ia bisa atau harus mengalah kepada temannya, dan kapan ia harus berkata ‘tidak’, terutama bila teman punya tujuan yang kurang baik. Misalnya sang teman ingin menguasai anak atau melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya bullying.
  • Komunikasi hangat dan terbuka. Untuk mengembangkan keterampilan sikap asertif pada anak, orang tua perlu mendukung dengan memberi pola asuh dan komunikasi hangat dan terbuka. Anak semakin memahami arti penting dari sikap asertif fan berhasil menerapkannya bila ia mendapatkan dukungan positif dari pola asuh dan komunikasi hangat tersebut. Pola asuh yang sebaliknya akan menumbuhkan sikap ragu, kurang berani, mudha cemas dan selalu mengikuti apa yang dimaui orang lain tanpa berani menyatakan pendapatnya.
  • Hargai usahanya. Jangan lupa beri pujian dan dukungan atas usahanya untuk bersikap asertif. Hindari mengkritik, tak menghargai dan memberi label negatif kepada anak.
 

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>