Banyak Pembelajaran Di Balik Kegiatan Makan

 

Memberi makan anak sama dengan 'perang', sebagian besar ibu pasti setuju.  Tapi siapa sangka, di balik 'perang' ini terselip sejuta cara untuk mengajarkan sesuatu pada balita. Buang pikiran kuno bahwa makan itu hanya untuk kenyang.

Manfaatkan makan. Bunda pasti tahu, kegiatan makan berarti memberikan zat gizi penting untuk modal pertumbuhan balita. Aneka zat gizi didapat dari aneka jenis makanan, sehingga penting mengenalkan aneka makanan pada anak. Dari aneka makanan ini balita Anda juga belajar rasa manis, asin, masam dan pedas. Dia juga belajar tekstur lembut dan kasar. Setelah itu, ia akan belajar banyak hal lain seperti warna makanan, jumlah, ukuran, dan ekspresi dari rasa. Ia akan bergidik saat merasakan jeruk masam, tersenyum saat makan makanan yang manis atau sedap, atau menangis saat merasai merica yang pedas.
Tak hanya sampai di situ. Ada hal penting lain yang balita  pelajari dari kegiatan makannya:

Belajar Adaptasi
  • Dengan lingkungan, saat anak diajak makan di tempat yang berbeda. Setiap tempat punya stimulus yang berbeda, sehingga buah hati Anda pun menanggapinya dengan cara yang berbeda. Perbedaan stimulus ini menjadi guru balita untuk beradaptasi.
  • Dengan jenis makanan yang berbeda. Semakin bertambah usia, balita harus bisa mengonsumsi makanan yang berbeda rasa, tekstur, bentuk dan warna. Perbedaan jenis makanan membuat balita belajar beradaptasi dengan makanan, sehingga mencegah terjadinya picky eaters alias pilih-pilih makanan.
Belajar Interaksi dan Reaksi. Saat makan, Anda atau pengasuh selalu mendampingi anak. Hadirnya seseorang di sisinya mendorong anak untuk belajar berinteraksi dengan orang lain. Saat Anda memberikan stimulus, Anda tentu mengharapkan reaksi atau respon darinya. Misalnya ketika Anda ingin memancing perhatiannya pada kegiatan makan, gunakan ekspresi verbal dan nonverbal untuk memancing reaksi sekaligus mengaktifkan penginderaan anak. Contohnya “Hm, bau sosisnya sedap sekali, ya!” Harapannya adalah agar anak mengambil sosis dengan tangannya dan mencium sosisnya.

Belajar Empati. Balita Anda mulai belajar berempati tahap sangat awal. Saat ia makan, bangkitkan empatinya dengan berkata, “Bunda kan sudah memasak makanan ini untuk kamu. Dimakan, yuk.” Maksudnya agar balita belajar menghargai pengorbanan Anda untuk makanan itu.  Pada bayi, empati dapat diajarkan dengan cara orangtua berempati pada kebutuhan makan dan karakter anak. Balita akan meniru perilaku Anda yang memahami dan tidak memaksa dirinya.

Belajar Keteraturan
  • Mulai dari cuci tangan dan berdoa sebelum makan. Setelah makan ditutup dengan doa, cuci tangan dan menggosok gigi. Menginjak usia 2 tahun balita mulai paham dan perlahan-lahan mengikuti keteraturan ini.
  • Jam makan yang teratur. Kebiasaan Anda memberikan makanan sesuai waktunya, akan membiasakan kondisi lambungnya. Karena terkondisi makan di waktu yang selalu sama, balita akan terbiasa makan di waktu yang tepat karena 'panggilan' perutnya.
  • Duduk di kursi makan saat makan, dapat melatih balita untuk tertib. Kebiasaan menggunakan high chair dengan sabuk pengaman adalah proses belajar yang tepat.
  • Proses regulasi: setelah makan anak Anda akan buang air besar, begitu juga dengan setelah minum akan buang air kecil.
Belajar Sabar. Menunggu Bunda menyiapkan makanan padahal perut sudah keroncongan? Ini bisa membuat balita tersiksa dan rewel. Tapi tak apa, ia juga harus belajar sabar menanti. Ia harus disadarkan bahwa segala sesuatu butuh proses. Anda bukan tukang sulap yang dengan 'simsalabim' segalanya langsung tersedia, bukan?

Belajar Sebab Akibat. “Makan ya, biar tumbuh tinggi. Ayo makan sayur bayam, biar kuat seperti Popeye.” Kata-kata lembut persuasif ini dapat mengarahkan pikiran anak pada hukum sebab akibat sederhana: karena makan, maka badanmu tumbuh. Karena kamu makan sayur, maka tubuhmu jadi kuat.

Belajar Perencanaan.
Ajak balita melihat apa yang terhidang di atas meja. Minta ia memilih makanannya dan mengambilnya sendiri. Ini adalah cara mengajak balita belajar merencanakan sesuatu.   Bantu dia mengambilkan makanan, sambil katakan, “Kamu, mau yang mana? Ayam goreng?”  Anak-anak tidak bisa memperkirakan perutnya. Melihat banyak makanan, ia ingin memindahkan semua ke dalam piringnya. Batasi, misalnya, “Ayam gorengnya satu dulu, ya?   Nanti kalau mau tambah, boleh ambil lagi. Brokolinya empat, wortelnya lima.”

Belajar Tanggung jawab.
Perencanaan dan tanggung jawab adalah dua hal yang berkaitan erat. Ketika balita sudah merencanakan mau makan apa, mintalah ia menghabiskannya, sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, Anda juga perlu melihat keadaan anak. Bila ia tidak mau menghabiskan karena sudah kekenyangan, Anda tidak perlu memaksanya. Tapi bila ia meninggalkan makanan hanya karena ingin segera bermain, Anda wajib memintanya menghabiskan makanannya lebih dulu. “Habiskan makanannya dulu, ya. Tadi kamu yang ambil sendiri, kan? Ayo habiskan dulu.”
 

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>