Deteksi Dini Skizofrenia

 

Mendengar skizofrenia tentu ada sedikit kengerian dalam diri Anda. Tahukah Bunda, skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas.

Penderita akan sering merasakan halusinasi pendengaran, dengan mendengar suara terus menerus atau merasa diikuti oleh agen mata-mata. Skizofrenia pada usia balita sulit dibedakan dengan gangguan seperti autisme, sindrom Asperger, ADHD. Diagnosanya harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang berkompeten.

Beberapa gejala atau tanda-tanda yang dapat dilihat adalah:

- Anak yang semula aktif dan pandai bergaul berubah menjadi lebih pemalu dan memiliki dunia sendiri.

- Kerap murung dan sedih berkepanjangan tanpa sebab yang jelas.

- Kadang-kadang anak  berbicara tentang ketakutan-ketakutan,kecemasan-kecemasan yang berlebihan serta melontarkan ide aneh.

- Anak yang sudah mulai mandiri menjadi kembali manja kepada orangtua.

- Halunisasi, seperti melihat sesuatu dan mendengar suara-suara yang tidak yang nyata.

- Pikiran dan ide yang dilontarkan tidak biasa atau aneh.

Saat ini, di Indonesia sudah terdapat beberapa cara untuk menyembuhkan skizofrenia. Menurut peneliti dan antropolog dari University of California Los Angeles (UCLA), Prof. Robert Lamelson, karakter masyarakat Indonesia yang ramah, senang bersosialisasi, dan gemar membantu sesama berperan besar bagi proses pemulihan penderita penyakit skizofrenia. Oleh sebab itu, pemulihan penderita skizofrenia di Indonesia lebih baik dibandingkan di Amerika dan Eropa.

Berdasarkan penelitiannya tentang Skizofrenia selama 10 tahun di Indonesia, Robert menyimpulkan, peran keluarga dalam proses pemulihan menjadi poin penting untuk memperbaiki kondisi penderita. “Apalagi masyarakat Indonesia umumnya masih hidup satu atap atau dekat.”

Rasa kekeluargaan juga mengikat masyarakat untuk bersama menangani penderita skizofrenia. Sehingga mereka merasa tidak tega dan ingin membantu bila ada tetangga atau saudara yang menderita gangguan tersebut. “Rasa kekeluargaan ini mencegah penderita menggelandang di jalan dan terpapar hal berbahaya seperti narkoba atau tindak kriminal. Paparan narkoba pada penderita gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan negara Amerika dan Eropa,” papar Robert.

KONSULTASI DR. TUN BASTAMAN, SpKJ., Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia.

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>