Isyana Bagoes Oka memberikan sambutan dalam forum SPRIN, menekankan pentingnya penguatan kesehatan perempuan dan peran keluarga dalam pembangunan generasi. Foto: Dok. POGI
Memperingati Hari Kartini tak hanya tentang mengenang gagasan emansipasi, tetapi juga menyoroti ironi sejarah yang masih relevan hingga kini. Raden Ajeng Kartini wafat pada usia 25 tahun, beberapa hari setelah melahirkan, pada 1904. Lebih dari satu abad berlalu, kenyataan pahit itu belum sepenuhnya menjadi masa lalu. Di Indonesia hari ini, rata-rata 22 ibu meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas—setara satu kematian tiap jam.
Memperingati momentum tersebut, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong inisiatif
Selamatkan PeRempuan INdonesia (SPRIN) untuk berkembang menjadi gerakan nasional. Langkah ini menjadi semakin mendesak di tengah masih tingginya beban penyakit yang mengancam perempuan Indonesia.
Tak hanya kematian ibu, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis setiap tahun, dengan lebih dari 21.000 kematian—sekitar satu perempuan meninggal setiap 25 menit. Angka Kematian Ibu (AKI) pun masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Kondisi ini mencerminkan tantangan sistemik: kesenjangan akses layanan, literasi kesehatan yang belum merata, hingga norma sosial yang masih menjadi penghambat.
Dalam konferensi pers yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor, Ketua Umum POGI,
Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, menegaskan bahwa SPRIN bukan sekadar program. “SPRIN bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kesehatan perempuan bukan isu sektoral, melainkan fondasi pembangunan bangsa,” ujarnya.
Dari Refleksi ke Aksi Kolektif
Gagasan SPRIN lahir dari realitas di lapangan. Budi menyebut, setiap satu jam ada ibu yang tidak kembali ke rumah setelah proses persalinan. Selain itu, kematian akibat penyakit yang dapat dicegah masih terus terjadi karena deteksi yang terlambat.
“Gerakan ini lahir karena kesenjangan layanan, akses yang belum merata, serta literasi kesehatan yang masih sangat bervariasi. Kesehatan reproduksi harus menjadi isu bersama, bukan hanya isu tenaga medis,” jelasnya.
SPRIN dibangun di atas pendekatan kolaboratif lintas sektor (pentahelix), melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan dan memastikan keberlanjutan program.
Sebagai langkah konkret, SPRIN mengusung sepuluh fokus utama, mulai dari skrining DNA HPV dan vaksinasi massal, edukasi kesehatan reproduksi, pemenuhan nutrisi ibu hamil, hingga peningkatan mutu layanan kesehatan. Selain itu, akan dibentuk forum tahunan SPRIN Summit 2026 sebagai ruang konsolidasi nasional, serta pengembangan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan.
Perwakilan lintas sektor hadir dan menyatakan dukungan terhadap SPRIN sebagai gerakan nasional untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan perempuan di Indonesia. Foto. Dok. POGI
Perempuan sebagai Poros Pembangunan
Lebih dari satu abad setelah gagasan emansipasi digaungkan Kartini, peran perempuan kini meluas ke ruang publik. Namun, tantangan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN,
Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos, menekankan bahwa pembangunan tidak cukup berfokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan dan penguatan sistem.
“Perempuan hari ini tidak lagi hanya berada di ranah domestik, tetapi juga menjadi aktor penting dalam pembangunan. Namun angka kematian ibu dan bayi masih harus ditekan. Pendekatan yang dilakukan harus komprehensif, mencakup edukasi dan penguatan layanan,” ujar Isyana.
Ia juga menegaskan bahwa arah kebijakan nasional telah menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan. Kesehatan perempuan menjadi titik strategis karena kualitas sumber daya manusia dimulai sejak masa kehamilan, bahkan sejak perencanaan keluarga.
“Perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat. Keluarga yang kuat adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tambah wanita yang juga merupakan juara favorit pilihan pembaca Wajah Femina Tahun 2000 ini.
SPRIN juga mengusung semangat global: When we educate a woman, we educate a nation. Edukasi dan akses layanan kesehatan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keluarga dan komunitas secara luas.
Bunda dan Ayah, SPRIN menjadi refleksi sekaligus langkah konkret untuk menjawab tantangan kesehatan perempuan di Indonesia. Dengan pendekatan kolaboratif, fokus pada edukasi, akses, dan mutu layanan, gerakan ini diharapkan mampu menekan angka kematian serta meningkatkan kualitas hidup perempuan secara menyeluruh.
Penulis: Laili
Baca juga:
Kematian RA Kartini, Kematian Ibu Setelah Bersalin
Faktor Usia Ibu Melahirkan, Berisiko Anak Stunting
Merasa Insecure dengan Perfect Pregnancy? Pahami Dulu Bund!