Belajar Apa Saja Saat Makan?

 

Kegiatan makan, yang hanya sepertiga dari seluruh kegiatan manusia, merupakan sarana belajar singkat namun efisien. Di meja makan anak belajar antara lain:
  • Pentingnya gizi. “Mengapa kita perlu makan?” Ini pertanyaan awal yang menggelitik anak. Apa pun jawaban balita, dengan bimbingan Anda, pasti sampai pada hasil yang Anda harapkan. Dari menu makanan yang Anda sediakan, anak belajar pentingnya sayur, lauk pauk yang terdiri dari protein nabati dan hewani serta buah-buahan. Terutama ketika Anda mengatakan, “Nak, jangan lupa sayur bayamnya dihabiskan ya. Biar kuat seperti Popeye. Ikannya dimakan supaya besar seperti beruang.”  Anak belajar bahwa tubuhnya perlu makanan.
  • Aspek sosial bahan makanan. Hidup di mana cumi-cumi dan ikan? Bagaimana sayur-sayuran ditanam? Membahas sekilas tentang laut tempat hidup binatang laut dan sayuran hidroponik, menambah pengetahuan anak. Pemahaman balita bertambah bahwa air juga  merupakan tempat hidup bagi mahkluk tertentu. Bahkan sayur pun dapat hidup di air. Aspek sosial lain dari makanan adalah jenis masakan. Misalnya Chinese food, masakan daerah seperti masakan Minang, atau  Rica-rica dari Manado.
  • Tata krama makan. Makan bukan hanya memasukkan makanan  ke dalam mulut, mengunyah dan menelannya. Makan merupakan serangkaian kegiatan yang menyangkut tata cara. Misalnya, sendok sebaiknya tidak beradu dengan gigi, mengunyah makanan tidak menimbulkan bunyi, sendawa tidak bersuara keras, tidak menyeruput makanan hingga bersuara keras, tidak berbicara ketika mulut penuh makanan. Yang disebutkan itu merupakan contoh perilaku makan yang disepakati masyarakat umumnya. Anda tak perlu bosan mengingatkan balita karena hal-hal tersebut dipelajari anak sepanjang hidupnya.
  • Mengatur meja. Kesempatan bagi anak untuk belajar keterampilan baru, yaitu mengatur meja. Mangkuk cuci tangan dan sendok  diletakkan di sisi kanan, garpu dan air minum di sisi kiri. Aturan yang Anda pelajari di kala kecil itu bisa saja sekarang berubah. Ada baiknya Anda memberi tahu  perubahan itu agar anak belajar keterampilan yang benar sesuai masanya. Anak juga sekaligus belajar membereskan meja seusai makan.
  • Rasa dan tekstur makanan. Mengajar anak mencoba makanan baru, misalnya puding, sayur, daging dengan bumbu yang lain dari biasa, dapat dilakukan saat makan bersama. “Kira-kira bagaimana ya rasa makanan itu? Yuk, kita coba....” Anak usia balita tidak terlalu suka perubahan. Itu sebabnya saat menghadapi perubahan rasa makanan, ia perlu diperkenalkan dengan hati-hati. Aneka rasa makanan dapat memperkaya anak dalam hal cita rasa.
  • Kepemilikan. Setiap anggota keluarga bisa memiliki peralatan makan masing-masing. Piring dan cangkir bergambar Winnie the pooh milik adik, piring dan gelas bergambar spider man milik kakak. Gelas bertulisan “Mama” milik bunda, gelas bertulisan “Papa” milik ayah. Penting bagi anak  belajar tentang kepemilikan. Dengan demikian anak juga belajar  menghargai dan merawat barang yang menjadi tanggung jawabnya.

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>