Saat Anak Trauma

 


Trauma dan rasa takut itu berbeda. Takut merupakan perasaan yang wajar dalam kehidupan sehari-hari dan masih bisa dikendalikan. Contohnya,  takut pada binatang tertentu, ketinggian dan sebagainya. Namun, jika anak pernah bersinggungan langsung dengan apa yang ditakutinya, misalnya digigit binatang atau terjatuh dari ketinggian, maka pengalaman ini berpotensi menimbulkan trauma di kemudian hari. Saat kejadian, otak tak hanya merekam peristiwa dengan jelas, tetapi  juga emosi  yang luar biasa. Batasan perbedaan ini juga bisa ditinjau melalui jangka waktu—dampak takut akan lebih sebentar daripada trauma. Trauma dapat ditekan tetapi tak sepenuhnya dilupakan. Butuh waktu yang panjang untuk memulihkan trauma.

Balita dapat mengalami peristiwa buruk atau luar biasa dalam hidupnya, yang kemudian membekas bahkan meninggalkan trauma. Walau kejadian pahit yang dialaminya telah berlangsung lama, peristiwa itu sering kali membelenggu dan mengusik pikiran serta perasaannya. Jika berkepanjangan, tentu akan berdampak pada karakter psikologis dan perkembangan kognitifnya. Segera konsultasikan ke psikolog dan psikiater anak bila trauma sering mengganggu aktivitasnya. Berikut  beberapa situasi yang dapat memicu trauma pada anak.

Trauma Rumah Sakit
Biasanya balita belum mampu mengatasi rasa ketidaknyamanan saat dirinya sakit. Di rumah sakit, beberapa kondisi dapat membuatnya semakin resah. Misalnya  saat anak lain menangis bahkan histeris di ruang tunggu, juga perlakuan dan peralatan dokter, serta  aroma rumah sakit pun juga bisa menjadi faktor penambah keresahannya. Rasa tak nyaman yang terus tersimpan bisa muncul kembali di kemudian hari, misalnya saat ia mencium aroma rumah sakit di suatu tempat. Sehingga aroma tersebut  menyimpan beberapa hal yang bisa membuat anak berpikir betapa menakutkannya tempat tersebut.  Ia pun bisa merasa mual, pusing atau merasakan pengalaman  sakit seperti dahulu.

Penting  dilakukan:
Perlahan, minta ia mengingat seperti apa trauma yang ia rasakan, sehingga Anda dapat mengetahui sisi rumah sakit mana saja yang membuatnya merasa tak nyaman. Satu hari saat ia sedang fit dan senang, ajak ia ke apotek atau klinik, lalu berikan arahan positif, “Saat sakit,  kita memang akan merasa tidak nyaman. Kalau Arya  mau cepat sembuh,  kita ke dokter di rumah sakit, biar kamu bisa bermain bola dengan teman-teman lagi.”


Trauma Kecelakaan
Saat kecelakaan berlangsung, misalnya pada kecelakaan kendaraan, ada berbagai hal yang ditangkap oleh semua indera si kecil. Kemudian terekam di memori otaknya, mulai dari suasana saat kecelakaan sampai dengan luka-luka yang membutuhkan perawatan medis. Dampaknya, si kecil menjadi  sangat terganggu ketika mendengar suara kendaraan, baik di jalan raya maupun di sekitar rumah. Saat ada kendaraan yang mendekatinya seakan peristiwa kecelakaan benar-benar hidup kembali di depan matanya.

Penting  dilakukan:
Saat kondisinya tenang dan tak lelah, minta ia menceritakan apa yang ia rasakan saat kecelakaan terjadi? Misalnya  bagaimana bunyi benturan, suara rem mobil, klakson, pecahan kaca dan sebagainya. Agar ia lebih rileks, buat suasana bercerita sambil bermain, misalnya mobil-mobilan.


Bencana alam

Metode penanganan pada trauma akibat bencana akan lebih rumit, terlebih jika bencananya besar dan banyak merenggut korban. Gempa bumi misalnya, si kecil menjadi cemas atau tertekan secara emosional menyaksikan berbagai emosi negatif para korban, seperti  menangis atau histeris kehilangan harta benda atau keluarganya meninggal.

Penting  dilakukan:
Sebaiknya lakukan interaksi dengan anak sesering mungkin, agar ia merasa semakin nyaman. Perlahan, Anda bisa mengajaknya ke sebuah ruangan, lalu lakukan kegiatan bercanda atau membacakannya cerita. Setelah itu  mulailah membahas tentang perasaannya terhadap tragedi tersebut. Kemudian berikan penjelasan konkret  bahwa saat ini kondisinya sudah aman, Anda selalu ada dan menyayanginya,  ia pun sudah bisa bermain kembali seperti dulu. Tak ada lagi meja yang bergetar, barang-barang berjatuhan dan sebagainya. Penjelasan nyata seperti ini bila dilakukan terus-menerus dapat mengurangi dampak trauma yang ia rasakan.


Trauma Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Anak-anak diliputi perasan bersalah karena cara berpikir anak masih egosentris, menilai dari sudut pandangnya sendiri. Kejadian yang ia lihat, seperti menampar, menjambak, menendang, berteriak atau membanting berbagai benda, baik yang dilakukan oleh ayah atau bunda membuat mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Rasa sedih yang dialami si kecil pun akan semakin mendalam bila kedua orang yang disayanginya kemudian berpisah. Kesedihan yang berlangsung terus-menerus akan mengganggu si  kecil dalam menjalani hidupnya kelak.

Penting  dilakukan:
Bicaralah pada anak sesuai usianya. Tanyakan dulu bagaimana perasaannya, setelah itu jawab pertanyaannya mengenai kondisi keluarga dengan tidak menyertakan emosi. Minta maaf padanya, karena perbuatan Anda atau pasangan Anda telah membuat ia menjadi takut dan cemas. Yang paling penting ialah yakinkan bahwa semua ini bukanlah salahnya.


Trauma Bullying

Kekerasan terbukti dapat meninggalkan ‘luka’ pada si korban, baik mental maupun fisik. Umumnya, korban diancam untuk tak memberitahu kondisi yang dialaminya pada siapapun, sehingga ia menjadi tertekan, gelisah dan cemas. Jika kondisi ini berlangsung lama, anak tentu akan mengalami trauma. Dampaknya, ia bisa menjadi pribadi yang tertutup atau membangun pemahaman bahwa tindak kekerasan memang dibenarkan.

Penting  dilakukan:
Sebagai orang terdekat, tentunya Anda harus tahu bila ada perubahan perilaku yang ditunjukannya, misalnya sering murung, mudah menangis atau menolak ke sekolah. Bila ia belum mau memberitahu Anda apa yang sedang ia alami, segera hubungi gurunya dan jelaskan tentang  perubahan perilaku tersebut, minta bantuan mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi pada si kecil di sekolah. Yang terpenting, biasakan anak bersikap terbuka pada orangtua, misalnya dengan tak langsung memarahinya ketika ia menceritakan kesalahannya.


KONSULTASI MUHAMMAD RIZAL, Psi, PSIKOLOG LEMBAGA PSIKOLOGI TERAPAN UNIVERSITAS INDONESIA, JAKARTA.


 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>